Pasar Properti Kelas Atas Turun 60 Persen

Big Banner

Housing-Estate.com, Jakarta – Satu tahun terakhir boleh dibilang sebagai periode paling sulit bagi pengembang hunian menengah atas. Melemahnya perekonomian nasional ditambah beragam kebijakan, seperti loan to value (LTV) atau rasio pinjaman dengan aset dan kewajiban melaporkan ke PPATK untuk transaksi Rp500 juta ke atas, membuat transaksi property kelas atas merosot tajam. Konsumen yang sebagian besar bermotif investasi lebih berhati-hati membelanjakan uangnya dan menunggu keadaan lebih pasti.

Ilustrasi

Ilustrasi

Menurut Ketua Umum DPP Realestat Indonesia  (REI), Eddy Hussy, pasar properti kelas atas mengalami penurunan hingga 60 persen. “Ini berbeda dengan properti untuk kalangan MBR (masyarakat berpenghasilan rendah) yang meningkat hingga 12 persen dari tahun lalu,” ujar Eddy kepada media di Jakarta, Kamis (15/10).

Eddy mengatakan, program sejuta rumah membuat masyarakat menengah bawah semakin sadar terhadap kebutuhan tempat tinggal. Sekarang mereka mau berusaha untuk membeli rumah. Ini mendorong permintaan hunian pada segmen ini meningkat cukup signifikan. Penyebab lain besarnya permintaan rumah menengah bawah ini adalah adanya pertambahan penduduk 1,49 persen per tahun.

“Sekarang sudah terbukti krisis ekonomi tidak memengaruhi minat masyarakat untuk membeli rumah tinggal. Mindset masyarakat juga sudah lebih baik dengan menganggap rumah sebagai investasi jangka panjang untuk masa depannya,” imbuhnya.

housing-estate.com

Large Rectangle
Large Rectangle

Share

Follow Me