Harga Rumah Melonjak Lebih 200%, Properti Hongkong Sepi Transaksi

Big Banner

Kemarin, rilis data perdagangan bulanan Hong Kong (HK) untuk periode yang berakhir pada bulan September 2015 kembali dipublikasi oleh pihak terkait. Dalam rilis tersebut terlihat bahwa kinerja ekspor impor HK pada bulan lalu memburuk sehingga mengakibatkan defisit dagang negara ini membengkan cukup tajam pada bulan lalu dengan berakhir sebesar -HK $ 36.400.000.000, dari yang semula tercatat sebesar -HK $ 25.070.000.000 di bulan Agustus. Masih buruknya kinerja ekspor impor HK sampai bulan lalu menandakan bahwa ekonomi global masih lesu karena permintaan ekspor masih lemah dan permintaan domestik juga bernasib serupa karena kegiatan impornya juga bukukan kinerja serupa. (Lihat juga: Kinerja Ekspor Impor Memburuk, Defisit Dagang Hong Kong Membengkak)

Masih lesunya perekonomian domestik di HK juga tercermin dari penurunan tajam jumlah transaksi yang tercatat di pasar sekunder hingga sekitar 2.000 transaksi dan menyentuh level terendahnya setidaknya sejak 1996 lalu. Pasalnya jumlah rata-rata transaksi bulanan di pasar sekunder HK pada tahun 2015 ini bisa jadi lebih rendah dari range 2200 – 2500 seperti yang tercatat pada tahun 2003 silama dimana kala itu perekonomian HK juga sedang diuji karena terkena wabah yang menyerang sistem pernafasan dan dikenal dengan wabah SARS.

Tidak berbeda jauh dengan Tiongkok yang sudah menahun bermasalah dengan bubble propertinya, demikian juga HK saat ini yang sedang menghadapi mahalnya harga properti. Sebagai informasi, harga rumah di HK sejauh ini sudah melonjak hingga lebih dari 370 persen ke rekor tertingginya sejak terakhir kali tercatat tahun 2003 silam. Pemerintah HK pun sebelumnya telah menyatakan rencananya untuk meningkatkan total saham di sektor perumahan hingga sebesar 18 persen, atau menambah 480.000 rumah baru di sepanjang dekade berikutnya. Bank Sentral HK juga bersinergi dengan aturan tersebut dengan menerapkan serangkaian langkah-langkah pengajuan kredit rumah yang lebih ketat terhadap calon pembeli, termasuk di dalamnya memperketat aturan hipotek dan menaikkan pungutan transaksi bagi investor luar negeri.

Menanggapi persoalan ini, salah satu bank besar yaitu Bank JPMorgan Chase & Co dan Morgan Stanley memperkirakan harga properti di HK akan mulai turun sebagai dampak dari pelemahan ekonomi yang tengah melanda dunia dan tentunya jika suku bunga naik otomatis daya beli konsumen sedikit tertahan, diharapkan dengan begitu harga properti dapat kembali seimbang. dan suku bunga meningkat. Dalam jangka menengah, setidaknya dalam kurun 2 (dua) tahun ke depan harga properti di negara ini akan bukukan penurunan sebesar 5 persen setiap tahunnya.

Sebagai informasi, jumlah transaksi properti jika termasuk rumah baru selama 26 hari pertama di bulan Oktober tercatat sebanyak 3711 transaksi dimana jumlah tersebut menunjukkan penurunan transaksi sebesar 24 persen dari periode yang sama bulan sebelumnya. Beberapa analis berharap hingga akhir bulan Oktober ini total transaksi bisa mencapai 4.640 transaksi meskipun nilai tersebut tetap masih merupakan level terendah dalam 19 bulan terakhir.

 

 

 

 

Stephanie Rebecca/VM/VBN/ Analyst at Vibiz Research Center
Edior: Asido Situmorang

vibiznews.com

Large Rectangle
Large Rectangle

Share

Follow Me