Membeli Properti Yang Didominasi Investor, Apa Untung Ruginya

Big Banner

Housing-Estate.com, Jakarta – Properti menjadi salah satu instrumen investasi yang diminati konsumen. Selain aman harganya terus naik sehingga menguntungkan. Di beberapa pusat pertumbuhan baru di Jakarta dan sekitarnya (Jabodetabek) mayoritas pembelinya kalangan investor. Rumah atau apartemen yang dibeli tidak ditempati melainkan disimpan untuk disewakan atau dijual dengan harga lebih tinggi.

Ilustrasi

Ilustrasi

Fenomena ini terjadi hampir di semua wilayah, misalnya Serpong, Tangerang, Banten; Cikarang-Bekasi, dan beberapa tempat lain, termasuk di kota-kota di luar Jabodetabek. Paling banyak pembeli investornya apartemen. Kendati tidak mau mengakui secara terbuka para pengembang apartemen menyatakan lebih dari 70 persen pembelinya adalah investor. “Masyarakat kita masih belum familier tinggal di apartemen, jadi konsumen membeli untuk investasi, bukan ditempati,” ujar petinggi perusahaan pengembang apartemen di Jakarta Selatan.

Abdel Rambey, seorang konsultan financial planning dan investor properti di Jakarta,  mengatakan, membeli properti di mana pun lokasinya selalu ada plus minusnya. Tapi secara umum properti tetap menguntungkan. Selain harganya bergerak alamiah pihak pengembang juga manaikkan harga secara berkala. Ini dilakukan agar pemiliknya mendapat gain atau keuntungan. Misalnya setiap terjual 50 unit harganya dinaikkan 2 persen.

Abdel mengingatkan konsumen agar jeli memilih lokasi dan konsep pengembangan. Apabila tujuannya untuk investasi lokasinya sebaiknya dekat pusat bisnis karena mudah disewakan atau dijual lagi. Ia menyebut, antara lain dekat koridor TB Simatupang, Jakarta Selatan, dan segitiga emas Jakarta. Jumlah unitnya jangan massal hingga ribuan. “Kendati di atas kertas harganya naik cukup tinggi, tapi kalau jumlahnya terlalu banyak untuk disewakan atau dijual pasti susah. Di pasar harganya juga tertekan,” ujarnya.

Selain itu properti yang pembelinya didominasi investor, baik perumahan atau apartemen, komunitasnya tidak segera terbentuk.  Lingkungannya sepi karena sedikitnya jumlah penghuni. Bagi konsumen pemakai (enduser) lingkungan seperti ini bisa jadi tidak nyaman. Mereka tidak punya komunitas sosial di lingkungan tempat tinggal, anak-anak juga tidak punya teman sepermainan. “Bayangkan kita tinggal  di apartemen kosong, satu lantai hanya beberapa unit terisi. Demikian juga perumahan, ratusan unit rumah di satu cluster hanya terisi tidak lebih 20 persen,” imbuh Abdel.

housing-estate.com