Geliat Apartemen di Kota Penyangga

Big Banner

Jakarta – Perlahan tapi pasti, apartemen di luar Jakarta, khususnya di kota-kota penyangga mulai memperlihatkan daya tariknya. Pasar pun intensif memburunya.

Ada tiga kota penting, yang proyek apartemennya semakin menggeliat. Yakni Bekasi, Depok, dan Tangerang. Dari ketiga kota itu, Tangerang adalah pemasok apartemen terbesar. Terdapat beberapa alasan mengapa apartemen di kota-kota itu kian diminati oleh pasar.

Director Research & Advisory Cushman & Wakefield, Arief Rahardjo mengatakan, pergeseran pasokan kondominium dari Jakarta ke kota-kota penyangga sejalan dengan ketersediaan aksesibilitas transportasi publik. Itu salah satu alasannya, aksesibilitas.

Kota – kota penyangga, seperti Bekasi, Depok, dan Tangerang menjadi wilayah yang terlintasi oleh transportasi publik KRL Commuter Line dan kereta ringan atau Light RapidTransit (LRT). Jalur KRL, misalnya, menghubungkan ketiga kota, dengan titik simpul atau titik temu di kawasan Manggarai, Jakarta Selatan.

Mobilitas konsumen kondominium, baik investor maupun end user, sangat terbantu oleh koneksi jalur KRL. Dari Depok, jalur KRL terhubung hingga kawasan Manggarai. Koneksi menuju Manggarai juga bisa ditempuh dari Bekasi. Selanjutnya, koneksi dari Manggarai bisa melaju hingga kawasan Serpong, Tangerang.

Koneksi serupa juga terlihat dari jalur LRT. Dari Bekasi, LRT terhubung ke Jakarta, melalui Jatibening, Halim, hingga Central Kuningan. “Faktor aksesibilitas transportasi menjadi faktor penting dalam pergeseran pasokan kondominium, dari Jakarta ke kawasan-kawasan komersial di luar Jakarta,” jelas Arief.

Masih terkait aksesibilitas, daya tarik apartemen di luar Jakarta juga dipengaruhi oleh jalur jalan bebas hambatan. Di samping KRL dan LRT, aksesibilitas itu juga ditopang oleh jalan tol dari dan menuju kota-kota peyangga Jakarta. “Aksesibilitas dari daerah komuter semakin bagus, dengan pembangunan jalaur tol JORR II,” ujar Arief.

Berikutnya, alasan yang menjadikan apartemen di luar Jakarta semakin menarik, adalah harga. Arief menilai, geliat apartemen di luar Jakarta bukan semata karena bidikan pasar yang semakin spesifik oleh pengembang. Ada faktor lain, yakni harga. Produk apartemen diharapkan memberi alternatif dari tekanan harga perumahan tapak (landed house).

Di kota-kota sekitar Jakarta, harga rumah tapak mengalami kenaikan secara bertahap, dengan skala kurang lebih 25 persen per tahun. Seringkali kenaikan bertahap itu jauh di atas harga apartemen. “Kisaran harga apartemen bisa sampai 20-40 persen dari harga rumah tapak di daerah yang sama,” jelas Arief.

Kisaran yang jauh itu, akhirnya mendorong pasar perlahan-lahan meninggalkan rumah tapak. Saat itulah, apartemen mulai dibanjiri oleh pasar. Satu lagi, geliat apartemen di luar Jakarta juga didorong oleh suburnya permintaan akan fasilitas komersial.

Suburnya permintaan itu dipicu pembangunan akses jalan arteri dan jalan tol dari dan menuju kawasan penyangga. Bahkan, pembangunan tersebut mampu meningkatkan nilai real estate sebesar 20-30 persen.

Survei pasar yang dilakukan oleh Cushman&Wakefield menyimpulkan, pasokan apartemen mulai bergeser dari Jakarta ke kota-kota penyangga seperti Bekasi, Depok, dan Tangerang. Faktor ketersediaan infrastruktur dan kemudahan akses tranportasi menjadi faktor pemicu pergeseran tersebut.

Saat ini,sebanyak 85 persen kondominium existing mengumpul di Jakarta. Ke depan, distribusi pasokan diperkirakan akan menyebar ke luar jakarta. “Sebanyak 57 persen, pasokan proyek apartemen disiapkan di luar Jakarta,” tegas Arief.

Investor Daily

Pamudji/FER

Investor Daily

beritasatu.com