Peningkatan PDB Dorong Pertumbuhan Sektor Properti

Big Banner

Jakarta – Peningkatan Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia pada 2016 akan mendorong pertumbuhan sektor properti. Kendati demikian, peningkatan tersebut tidak serta merta meningkatkan performa sektor properti secara langsung.

“Properti diperkirakan masih akan mengalami pertumbuhan yang relatif stagnan selama setahun kedepan,” ujar Vice President Coldwell Banker Commercial Advisory Services, Dani Bhatara, di Jakarta, Selasa (3/11) petang.

Dani menyampaikan pandangan tersebut dalam paparan Perusahaan Riset dan Konsultan Properti, PT CB Advisory (Coldwell Banker Commercial Indonesia) tentang iklim industri properti.

Menurut dia, sektor properti yang lebih dahulu terdorong adalah sektor ritel. Sektor ini cenderung meningkat sejalan naiknya pengeluaran belanja rumah tangga. Kenaikan tingkat pembelanjaan akan memacu para retailer untuk menjalankan rencana pengembangan usaha, yang mendorong kenaikkan permintaan ruang ritel.

Secara historis segmen ritel selalu bisa mencapai masa pemulihan lebih cepat dibandingkan segmen perkantoran maupun apartemen. Hal ini dilihat dari pascakrisis 1998, dimana pada 1999 pasokan pusat perbelanjaan naik. Hal serupa juga terjadi pada 2009.

Riset Coldwell menyebutkan, pada 1999 terdapat permintaan ruang ritel seluas 139.000 meter persegi. Padahal, pada 1998 pasokan turun 60.000 meter persegi. Tingkat okupansi juga anjlok hingga 78 persen dari posisi 1997 sebesar 91 persen. Sepanjang tahun ini, segmen properti ritel masih bertahan kendati beberapa produk busana mengalami penurunan penjualan. Bahkan, pada tahun ini ada tambahan ruang ritel seluas 91.000 meter persegi.

“Sektor ritel berbasis konsumsi merupakan segmen yang paling sensitif terhadap pertumbuhan ekonomi. Namun, sektor ini juga dinilai paling cepat pulih,” kata dia.

Sebagaimana diketahui, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II 2015 mencapai 4,67 persen, level terendah sejak 2009. Pertumbuhan ekonomi pada 2016, menurut Dani, diprediksi lebih tinggi, sebesar 5,3 persen. Alhasil, permintaan di segmen ritel diperkirakan meningkat.

Berdasarkan data yang dihimpun Coldwell, per Oktober 2015 tingkat hunian properti ritel masih tergolong tinggi, di atas 90 persen. Di kota-kota mapan seperti Jakarta, Bandung, dan Surabaya, tingkat keterisian mencapai 93,7%. Sedangkan di kota-kota yang baru berkembang mencapai 91 persen. Kota-kota berkembang tersebut antara lain Makassar, Balikpapan, Bali, Semarang, Yogyakarta, Solo, dan Bodetabek.

Sektor lain yang diperkirakan tetap tumbuh adalah kawasan industri dan perumahan kelas menengah bawah. Permintaan akan kawasan industri diperkirakan naik pada akhir 2015 maupun 2016. Kebijakan pemerintah yang mempermudah investasi terutama di kawasan industri akan mendorong permintaan terhadap sektor ini. Sementara itu, permintaan sektor perumahan terutama kelas menengah bawah masih tetap tinggi.

“Rumah untuk kelas menengah bawah, terutama untuk rumah tapak, masih tetap tinggi, karena kebanyakan pembelinya adalah end user dan memang untuk ditinggali,” kata dia.

Sektor berikutnya yang tumbuh, lanjut dia, adalah perhotelan. Pertumbuhan di sektor ini dipengaruhi oleh aktivitas bisnis dan wisata.

 

Feriawan Hidayat/Imam Mudzakir/FER

beritasatu.com