BISNIS PROPERTI 2016: Sektor Hunian Bisa Tumbuh 20%

Big Banner

Bisnis.com, JAKARTA—Industri properti residensial diperkirakan mengalami pertumbuhan 15% – 20% pada tahun depan, seiring stabilnya kondisi ekonomi dan menguatnya sentimen pasar.

Country General Manager Rumah123.com Ignatius Untung mengatakan, berdasarkan survei yang dilakukan perusahaan pada pertengahan Juli hingga Agustus 2015, hampir 30% dari 2.530 responden di Indonesia memilih membeli properti dalam 1 tahun – 2 tahun ke depan. Kemudian, sekitar 25% responden berencana memiliki hunian lebih dari 2 tahun ke depan.

Padahal, dalam survei sentimen pasar semester I/2015 sebelumnya, sejumlah 25% informan memilih membeli properti dalam 1 tahun – 2 tahun ke depan. Mayoritas narasumber atau sekitar 37% berencana mengambil rumah lebih dari 2 tahun ke depan.

Ignatius menyampaikan, pada paruh kedua 2015 sentimen pasar residensial bergeliat karena faktor makro ekonomi yang kondusif, seperti naiknya nilai tukar rupiah terhadap dollar. Sikap pemerintah yang mengeluarkan berbagai paket kebijakan juga memicu optimisme pelaku usaha dan calon konsumen.

Bila situasi kondusif terus berlanjut, dia memperkirakan industri properti, khususnya residensial bertumbuh 15% – 20% pada 2016. 

“Pasar semakin percaya industri properti akan kembali bertumbuh sehingga memperpendek masa wait and see,” tuturnya dalam acara Laporan Sentimen Survei Properti Indonesia H2 2015 di Jakarta.

Menurutnya, jika paket kebijakan ekonomi yang dikeluarkan pemerintah bisa terlaksana, properti bisa bertumbuh lebih positif. Apalagi ditambah dengan maraknya pembangunan infrastruktur dan transportasi umum.

Beberapa konsumen sudah memilih hunian yang dekat dengan jalur light rail transit (LRT) dan mass rapid transit (MRT) ke depannya. Bahkan, investor yang berniat menjual properti ataupun lahan menunda pemasaran agar produknya bisa dilepas ketika harga sudah naik atau seiring rampungnya pembangunan moda transportasi masal tersebut.

Menyinggung soal cara pembayaran, 70% responden akan mengambil kredit pemilikan rumah (KPR) dari perbankan saat membeli properti. Sedangkan 22% narasumber memilih menggunakan opsi pembayaran lain, dan 8% sisanya tidak menjawab.

Alasan KPR menjadi pilihan ialah nilai suku bunga yang menjadi daya tarik utama atau sebagai faktor terpenting, diikuti kemudahan aplikasi pinjaman, dan terakhir bonus subsidi.

Hal yang menarik, lanjut Ignatius, 50% narasumber tidak setuju developer memberikan pinjaman langsung terhadap konsumen sebagai alternatif KPR, dan 42% selebihnya setuju. Menurutnya, masyarakat enggan mencicil melalui pengembang karena faktor keamanan.

“Masih ada anggapan pengembang akan melarikan diri atau mengerjakan proyek tidak sesuai perjanjian, sehingga konsumen memilih membayar melalui pihak ketiga ,”katanya.

 Hasil riset juga mengemukakan, kenaikan suku bunga bank menjadi faktor yang paling dikhawatirkan pasar, diikuti dengan kenaikan harga BBM, dan aspek gejolak politik.

Sepanjang 2015, lanjutnya, komposisi penjualan properti primer dan sekunder berbanding 40:60. Dari 400.000 produk di situs Rumah123.com, sekitar 90% menawarkan properti primer dan 10% sisanya sekunder.

properti.bisnis.com

Large Rectangle
Large Rectangle

Share

Follow Me