70 Persen Konsumen Beli Rumah secara Kredit

Big Banner

JAKARTA, KOMPAS.com – Kredit Pemilikan Rumah (KPR) masih menjadi pilihan utama masyarakat Indonesia untuk membeli rumah pribadi. Banyaknya institusi perbankan yang memiliki program KPR semakin memudahkan masyarakat .

Berdasarkan laporan “Indonesia Property Sentiment Survey H2-2015,” ada sekitar 70 persen responden memilih KPR ketika membeli properti. Sementara sisanya memilih menggunakan opsi pembayaran lain seperti cicilan langsung atau tunai bertahap ke pengembang.

Salah satu hal yang menjadi daya tarik KPR adalah suku bunga. Sekitar 66 persen responden menganggap bahwa suku bunga KPR merupakan faktor terpenting. Hal itu diikuti dengan 27 persen yang memilih kemudahan aplikasi pinjaman dan 4 persen lainnya bonus subsidi.

Berdasarkan hal tersebut, suku bunga menjadi pertimbangan paling penting ketika konsumen akan mengajukan KPR. Perbankan sendiri harus berperan untuk bisa mengubah paradigma konsumen bahwa suku bunga bukan menjadi satu-satunya hal yang menjadi pertimbangan dalam KPR.

“Angka itu akan berubah apabila ada bank yang mau mengedukasi hal penting selain suku bunga, melainkan fasilitas-fasilitas lainnya yang disediakan,” ucap Country General Manager Rumah123.com, Ignatius Untung, di Jakarta, Selasa (2/11/2015).

Namun sayangnya, selain menjadi daya tarik, suku bunga juga menjadi hal yang paling dikhawatirkan oleh masyarakat, terlebih dalam kondisi ekonomi seperti saat ini. Suku bunga bisa tiba-tiba naik atau turun sesuai dengan perkembangan ekonomi dunia.

Laporan “Indonesia Property Sentiment Survey H2-2015” melansir bahwa 35 persen responden menaruh kekhawatiran pada suku bunga. Jumlah itu melebihi kekhawatiran akan naiknya harga bahan bakar minyak (BBM) yang mencapai 32 persen dan gejolak politik di posisi tiga dengan 29 persen.

Menjelang akhir tahun, tingkat suku bunga KPR/KPA yang diterapkan perbankan Nasional, dinilai masih tinggi dan belum dapat mengakomodasi pasar properti Indonesia yang didominasi kalangan masyarakat kelas menengah dan menengah ke bawah.

“Sekarang ini kan suku bunga Bank Indonesia (BI) cukup tinggi sehingga bank pun harus memasang suku bunga yang juga pasti lebih tinggi. Pengaruhnya tentu saja langsung ke konsumen yang merasa berat untuk mencicil rumah-rumah atau apartemen,” kata Ketua APERSI, Edi Ganefo kepada Kompas.com, Senin (2/11/2015).

properti.kompas.com