Mal Kawasan “Kepala Naga” Dikunjungi 3 Juta Orang Per Bulan

Big Banner

JAKARTA, KOMPAS.com – Kawasan “kepala naga” hingga kini masih identik dengan Kelapa Gading, Jakarta Utara. Tahbis “kepala naga” ini disematkan karena aktivitas bisnis, dalam bentuk apa pun, tak pernah mati.

Mengacu pada sektor properti, kurva pertumbuhan harganya terus mendaki. Harga lahan di jalur utama atau area komersialnya sudah menyentuh angka Rp 50 juta per meter persegi.

Sementara harga lahan di area perumahannya bervariasi antara Rp 25 juta hingga Rp 35 juta per meter persegi.

Tak mengherankan, jika Kelapa Gading tetap menjadi incaran pebisnis dan investor meskipun yang mengklaim sebagai “kepala naga” banyak bermunculan di wilayah lain Jakarta. 

Salah satu yang menjadi incaran pebisnis dan investor adalah Mal Kepala Gading. Pusat belanja yang dibesut oleh PT Summarecon Agung Tbk ini menunjukkan kinerja nyaris sempurna.

Hal itu ditandai dengan tingkat okupansi yang mencapai angka 97 persen. Sementara tiga persen sisanya sengaja dipertahankan pengelola untuk calon peritel baru.

Deputy Executive Director Mal Kelapa Gading, Tommy, menjelaskan saat ini calon peritel yang mengusung merek asing maupun lokal berada dalam daftar antrian panjang. 

“Mereka bersedia menunggu lama demi dapat membuka toko atau gerainya di Mal Kelapa Gading. Salah satunya Nanny’s Pavillion,” ungkap Tommy.

Selain Nanny’s Pavillion, ada banyak nama lainnya yang akan masuk Mal Kelapa Gading. Mereka tergoda membuka gerai di sini karena jumlah kunjungan rerata mencapai 3 juta orang per bulan. 

Jumlah itu aan bertambah banyak, bila digelar acara-acara spesial macam Jakarta Street Food Festival, Jakarta Fashion and Food Festival, atau yang saat ini sedang digelar yakni “House of Trap”. 

“Penambahannya sekitar 300.000 orang per hari,” cetus Tommy.

properti.kompas.com

Large Rectangle
Large Rectangle

Share

Follow Me