Surabaya Bakal Salip Jakarta

Big Banner

SURABAYA, KOMPAS.com – Gelombang bisnis baru tengah terjadi di Jawa Timur dengan Surabaya sebagai generator perubahan.

Kota terbesar kedua di Indonesia ini mencatat pertumbuhan signifikan, dan menjadi tujuan paling populer. Terutama untuk properti komersial macam bisnis perkantoran, perhotelan, pusat belanja dan kawasan industri.

Investor-investor asing ternama mulai melihat peluang-peluang besar yang ditawarkan. Hingga kini, terdapat Nestle, Samsung, Philips dan Unilever yang telah berinvestasi di sini.

Dengan harga beli rerata Rp 16 juta per meter persegi dan sewa Rp 550.000 per meter persegi per tahun, Surabaya adalah wilayah berpotensi tinggi untuk bisnis.

Ada tiga area favorit para investor. Ketiganya adalah Jl Raya Darmo, Jl Raya Mayjend Sungkono dan Jl Raya HR Muhammad.

Tampilnya kota terbesar kedua Indonesia sebagai destinasi investasi favorit ini tak lain karena dorongan beberapa faktor unggulan.

Menurut Lamudi Indonesia, faktor unggulan tersebut adalah lokasinya yang strategis sebagai koridor maritim, sehingga memicu perusahaan-perusahaan multinasional memusatkan perhatian pada Surabaya.

Kondisi dan posisi tersebut semakin diperkuat dengan dukungan Pemerintah Kota Surabaya dan Pemerintah Provinsi Jawa Timur melalui perencanaan sejumlah proyek infrastruktur. Termasuk bandara baru, kereta api dan pelabuhan. 

Hilda B A/KOMPAS.com Kawasan Industri Ngoro, Mojokerto, diisi perusahaan manufaktur, consummer goods, dan industri ringan lainnya.

Selain infrastruktur, faktor lainnya adalah kemudahan dan efisiensi proses perizinan investasi baru, yang meniru sistem Singapura. Hal ini akan menjadi dorongan besar untuk daerah tersebut.

Wajar jika sejumlah kawasan industri bermunculan di Surabaya, dan kawasan sekitarnya seperti Tuban dan Mojokerto untuk menarik bisnis yang lebih besar. 

Managing Director Lamudi Indonesia, Steven Ghoos memprediksi Surabaya dalam waktu dekat akan mengungguli Jakarta, bila rencana proyek infrastruktur direalisasikan seluruhnya.

“Selain itu, harga lahan dan propertinya masih kompetitif dan ke depan akan meningkat seiring perusahaan-perusahaan terkenal dunia berinvestasi di Jawa Timur,” ujar Ghoos dalam keterangan tertulis kepada Kompas.com, Senin (9/11/2015).

Terus tumbuh

Dalam Laporan Perkembangan Properti Komersial keluaran Bank Indonesia (BI), properti komersial yang sedang mengalami pertumbuhan adalah perkantoran. Per kuartal II-2015, tingkat hunian mencapai 91,92 persen atau naik 2,11 persen.

www.shutterstock.com Ilustrasi.

Peningkatan itu disertai kenaikan harga sewa 4,54 persen menjadi Rp 172.977 per meter persegi per bulan dari sebelumnya Rp 165.466 per meter persegi per bulan

Demikian halnya dengan pusat belanja yang tercatat menembus angka Rp Rp 458.270 per meter persegi per bulan untuk harga sewa. Angka ini 3,77 persen lebih tinggi dibanding kuartal I-2015.

Sedangkan kawasan industri mencatat tingkat hunian sempurna 100 persen dengan harga Rp 12 juta per meter persegi.

properti.kompas.com