Harga Lahan Pengaruhi Proyek Rumah Sederhana di Sumut

Big Banner

Bisnis.com, MEDAN – Pembangunan rumah tapak sederhana (RTS) di Sumatra Utara menjelang akhir tahun ini masih lambat. Tingginya harga lahan di beberapa daerah tertentu masih menjadi kendala utama.

Wakil Sekretaris Jenderal Realestate Indonesia (REI) Tomy Wistan menuturkan, realisasi pembangunan 5.000 RTS  untuk masyarakat berpenghasilan rendah hingga Oktober 2015 masih jauh dari jumlah ideal yang dibutuhkan di Sumut yakni 10.000 rumah per tahun.

“Tapi sampai sekarang memang sulit terwujud. Penghambat utama adalah harga lahan yang mahal. Kami ingin membangun di daerah yang sudah memiliki infrastruktur yang baik, misalnya akses jalan. Nah, di sana tentu harga lahan lebih mahal. Kalau mau yang murah, infrastruktur pendukungnya tentu lebih jelek,” papar Tomy, yang juga mantan Ketua REI Sumut, Selasa (10/11/2015).

Adapun, daerah yang menjadi sasaran pembangunan RTS adalah Deliserdang, Binjai, Rantau Parapat dan juga Nias. Selain permasalahan lahan yang mahal, perizinan juga diakui Tomy masih menjadi kendala.

“Perizinan untuk membangun hingga saat ini masih memakan waktu lama dan mahal,” tambahnya.

Kendati mengalami banyak kendala, Tomy mengakui pada saat ini, ketika pertumbuhan ekonomi Sumut dan nasional tengah melambat, penggarapan pasar rumah murah menjadi senjata utama. Pasalnya, saat ini penjualan properti di Sumut terus merosot, terutama segmen rumah komersial.

 

 

properti.bisnis.com

Large Rectangle
Large Rectangle

Share

Follow Me