Ini Alasan Jawa Timur Menarik Bagi Perusahaan Besar

Big Banner

Jakarta – Dengan tingkat persaingan yang semakin ketat di skala regional, Indonesia membentang ke depan dalam perlombaan untuk menarik perhatian perusahaan-perusahaan besar. Uniknya, tidak hanya ibukota Jakarta yang menangkap perhatian, baik dari bisnis lokal maupun internasional.

Saat ini, tidak lah cukup dengan hanya menawarkan tenaga kerja murah dan berpendidikan. Hal ini dapat dirasakan dalam gelombang bisnis baru yang membuka usahanya di kawasan ekonomi terbesar kedua di Indonesia, Jawa Timur.

Marketplace properti, Lamudi Indonesia, menyebutkan, sebagian besar dari PDB Jawa Timur dihasilkan oleh sektor perdagangan dan perhotelan (30 persen). Selain itu, telah ada peningkatan besar dalam pariwisata dan ini memiliki efek knock-on pada ekonomi lokal.

“Saat ini, Jawa Timur semakin berkembang. Ada peluang bagi kalangan pebisnis dan juga perusahaan multinasional besar. Harga properti tetap kompetitif, sebagaimana perusahaan-perusahaan terkenal dunia berinvestasi di Jawa Timur, untuk mendapatkan keuntungan dari potensi besar yang belum tersentuh,” ujar Managing Director Lamudi Indonesia, Steven Ghoos, dalam siaran persnya baru-baru ini.

Menurut Steven Ghoos, Gubernur Jawa Timur, Soekarwo, memiliki ambisi yang kuat untuk membangun ekonomi daerah yang dipimpinnya. Provinsi Jawa Timur terdiri dari 287 pulau, berbatasan dengan Laut Jawa, Samudera Hindia, dan Selat Bali, yang dalam waktu dekat dapat mengungguli ibukota Jakarta apabila fokus untuk pembangunan wilayah tersebut.

Selain itu, lanjut dia, kalangan investor asing ternama telah mulai melihat peluang-peluang besar yang ditawarkan Jawa Timur. “Sampai saat ini, Nestle, Samsung, Philips dan Unilever telah berinvestasi di Jawa Timur. Singapura, Belanda dan Inggris, juga memiliki investasi asing langsung (FDI) tertinggi di wilayah ini,” kata Steven Ghoos.

Akses Jawa Timur untuk koridor maritim, kata Steven Ghoos, memberikan rute perdagangan yang lancar dengan Malaysia dan Singapura. Lokasinya yang strategis, lanjut dia, mendorong perusahaan-perusahaan berbasis di negara-negara tetangga untuk memusatkan perhatian mereka pada Jawa Timur.

Selain itu, kata dia, juga tengah dalam tahap perencanaan adalah proyek infrastruktur yang signifikan, termasuk bandara baru, stasiun kereta api, dan pelabuhan. Jalur-jalur baru ini, akan menjadikan Jawa Timur sebagai area yang menguntungkan untuk melakukan bisnis.

“Dengan banyaknya pembangunan, ditambah dengan proses perizinan investasi baru yang meniru sistem Singapura, akan menjadi dorongan besar untuk daerah tersebut,” kata Seteven Ghoos.

Guna menarik bisnis yang lebih besar, lanjut dia, sejumlah kawasan industri juga telah didirikan di
Surabaya, seperti Tuban dan Mojokerto. Sedangkan pusat-pusat komersial, izin real estate dapat diperoleh dalam proses yang lebih efisien, memungkinkan investor asing untuk menyewa tanah dan gudang.

Data terkini yang dilansir Lamudi Indonesia menunjukkan, Surabaya menduduki posisi sebagai wilayah paling populer dan banyak dicari untuk properti komersial. “Dengan harga beli rata-rata Rp 16 juta per meter persegi, dan sewa Rp 550.000 per meter persegi per tahun, Surabaya merupakan wilayah berpotensi tinggi untuk bisnisdengan area favorit antara lain Darmo, Mayjend Sungkono dan HR Muhammad,” tambahnya.

Feriawan Hidayat/FER

BeritaSatu.com

beritasatu.com