Ini Dia… Di Balik Serbuan Pengembang Jepang

Big Banner

KOMPAS.com –  Prediksi Colliers International Indonesia pada 2014 bahwa kawasan Serpong akan mengalami ledakan properti dalam lima tahun ke depan, semakin terlihat mewujud nyata. Hari-hari ini, misalnya, bertambah banyak saja pengembang raksasa dari Jepang yang menginvestasikan dana ke kawasan ini.

Ialah Tokyu Land Corporation, melalui Tokyu Land Indonesia dan Mitsubishi Corporation, menanamkan dana senilai 300 juta dollar AS atau senilai Rp 4,3 triliun di BSD City, Serpong, Tangerang.  Dana tersebut dibenamkan untuk pengembangan proyek BRANZ BSD, apartemen kelas atas di lahan BSD

“Investasi sebesar itu dilakukan karena Indonesia merupakan pasar yang besar. Bahkan paling besar di antara sesama negara di Asia Tenggara,” ucap President dan CEO Tokyu Land Corporation Hitoshi Uemura, Sabtu (12/9/2015).

Rencananya, BRANZ BSD diwujudkan berupa delapan menara dengan 3.000 unit apartemen di atas lahan seluas 5,3 hektar. Tahap pertama, akan dibangun 3 menara berisi 1.256 unit apartemen senilai 100 juta dollar AS atau setara sekitar Rp 1,4 triliun.

Ekspatriat

Kawasan Serpong memang dipandang sebagai kawasan prospektif. Selain infrastrukturnya mapan, aksesnya pun mudah. Beberapa fasilitas penunjang, di antaranya universitas, rumah sakit, dan pusat perbelanjaan, sudah tersedia di sini. Belum lagi ketersediaan feeder busway, stasiun kereta api, dan akses jalan tol, semakin memudahkan penghuni kawasan ini bila ingin berkunjung ke Ibu Kota.

Di luar itu, para pengembang besar juga membidik kebutuhan ekspatriat. Kawasan “segitiga emas Tangerang”, yaitu Lippo Karawaci, Summarecon, serta Paramount Serpong memang mulai dipenuhi ekspatriat. Karenanya, pengembang pun berderet membangun apartemen dan hotel di kawasan Serpong

Kuatnya permintaan dari ekspatriat asal Jepang dan Korea Selatan mempengaruhi tingginya okupansi apartemen kelas atas atau hotel di kawasan tersebut. Selain dua negara itu, pasar asing dengan potensi sama besarnya adalah ekspatriat China.

Temuan Archipelago International memperkuat hal tersebut, dengan menyatakan bahwa potensi hunian di kawasan segitiga emas Tangerang cukup menjanjikan. Berdasarkan riset Archipelago 2014 lewat jaringan hotelnya, perbedaan okupansi hotel di kawasan ini nyaris tak jauh berbeda dengan Jakarta, bahkan bisa menembus 85 persen sampai 90 persen.

properti.kompas.com