Kredit Pemilikan Rumah Tetap Jadi Idola

Big Banner

Kredit Pemilikan Rumah (KPR), hingga saat ini masih menjadi pilihan pasar properti Indonesia sebagai pola transaksi. Kini, bahkan nyaris semua institusi bank sudah memiliki program pembiayaan properti itu hingga semaki memudahkan masyarakat yang ingin memiliki huniannya sendiri.

Mencicil sebuah properti jelas lebih bermanfaat ketimbang produk elektronik. Pasalnya, berapapun ubesarnya uang cicilan yang harus dibayarkan ke bank, akan turut diikuti kenaikan nilai properti itu sendiri.

Nyaris tak ada properti yang ketika dijual, harganya lebih rendah daripada saat awal membeli. Sebaliknya dengan bawang elektronik. Penurunan harga elektronik, bahkan sudah langsung terjadi saat segel kemasan dibuka.

Pertimbangan itu membuat KPR tetap menjadi pola pembayaran unggulan. Meski unggulan, pihak perbankan sebagai penyedia jasa juga harus memperhatikan faktor pertimbangan dari sisi konsumen.

Singkat kata adalah suku bunga kredit KPR. Tinggi atau rendahnya suku bunga kredit yang diterapkan, tentu akan menarik konsumennya. Persaingan tingkat suku bunga kredit pun terus terjadi, padahal Bank Indonesia masih menerapkan suku bunga acuan juga yang cukup tinggi, yakni di atas 7 persen.

Sayangnya, mereka yang menaruh perhatian pada fasilitas KPR masih sangat kecil. “Seharusnya, bank juga mau mengedukasi hal penting selain suku bunga, yakni fasilitas-fasilitas lain yang disediakan,” ujar Untung.

Ya, selain suku bunga, konsumen sebaiknya juga mempertimbangkan hal lain sebelum mengajukan pinjaman dalam program KPR. Salah satunya tentu kemudahan pengajuan aplikasi sehingga Anda bisa memiliki properti idaman dalam waktu yang lebih cepat. Toh, harga properti tak mengenal kata “turun”, bukan?

rumah123.com

Large Rectangle
Large Rectangle

Share

Follow Me