Awas… Ratusan Tanaman Obat di Jakarta Makin Tergusur Pembangunan!

Big Banner

JAKARTA, KOMPAS.com – DKI Jakarta memiliki potensi keanekaragaman hayati yang luas. Sayangnya, minimnya ruang terbuka hijau (RTH) dan gencarnya pembangunan hunian dan komersial menjadi ancaman bagi keanekaragaman hayati di perkotaan.

Demikian hal itu dipaparkan Dr. Tatang Mitra Setia, ahli biologi dari Universitas Nasional, Sabtu (14/11/2015). Dia memaparkan hal itu dari hasil seminar nasional yang diketuainya bertajuk ‘Biologi Perkotaan: Biologi untuk Kehidupan harmonis manusia dan alam, pada Rabu (11/11/2015) lalu.

Tatang mengatakan, Indonesia merupakan salah satu negara dengan keanekaragaman hayati tertinggi di dunia. Lebih dari 10 persen tumbuhan, 12 persen mamalia, 7,3 persen reptil, dan 17 persen burung dunia ada di Indonesia. Tingginya keanekaragaman itu juga diikuti dengan tingginya ancaman yang mengakibatkan krisis keanekaragaman hayati.

Kehilangan habitat menduduki rangking tertinggi sebagai ancaman serius terhadap keberlangsungan hidup keanekaragaman hayati. Selain itu, minimnya RTH dan hadirnya spesias “alien” menyumbang 49 persen sebagai ancaman keanekaragaman hayati di Indonesia, khususnya keanekaragaman hayati di perkotaan.

“Keanekaragaman hayati itu bukan warisan nenek moyang, tapi titipan anak cucu kita. Saat ini kepedulian terhadap keberadaan keanekaragaman hayati, terutama di perkotaan sangat menurun. Oleh sebab itu, upaya meningkatkan kepedulian dan upaya pelestarian adalah tugas kita bersama,” kata Tatang.

Menurut dia, perkotaan juga tempat hidup dari fauna dan flora yang kini semakin terdesak dengan percepatan pembangunan berupa rumah, gedung dan sarana transportasi. Padahal, banyak kehidupan keanekaragaman hayati yang belum terungkap, baik potensi dan keragaman jenisnya.

Sebelumnya, kesimpulan menarik lain dari seminar yang juga disampaikan ke Kompas.com itu adalah perihaltingginya potensi keanekaragaman hayati di bidang tanaman obat. Menurut Prof. Ernawati Sinaga, pembicara lain dari Universitas Nasional mengatakan, banyak jenis tanaman obat yang hidup dan mudah ditemukan di Jakarta.

“’Hasil penelitian yang dilakukan, untuk wilayah Jakarta Selatan saja terdapat sekitar 80 jenis tanaman obat. Saya optimistis, di Jakarta ini bisa ditemukan 200 sampai 300 jenis tanaman obat,” kata Ernawati.

“Tanaman obat itu sangat multifungsi. Ada yang bisa menjadi tanaman hias, rempah-rempah untuk memasak sekaligus menyembuhkan berbagai penyakit,’” tambahnya.

Ernawati mencontohkan tanaman kembang sepatu yang, apabila daunnya dihancurkan dapat digunakan untuk meredakan demam. Bunga melati dan mawar pun, lanjut dia, dapat digunakan sebagai kosmetik serta rempah-rempah, misalnyajahe, temulawak, dan lainnya. 

“Selain selain dapat digunakan untuk memasak juga dapat berfungsi sebagai obat untuk batuk atau meningkatkan nafsu makan anak,” katanya.

Untuk itu, Ernawati merasa perlu mendorong masyarakat untuk memanfaatkan lahan rumah untuk menjaga keanekaragaman hayati tanaman obat. Keanekaragaman hayati, apabila dijaga dengan benar, dapat menjadi salah satu solusi untuk penyakit-penyakit yang justeru ada di perkotaan. 

“Perlu dijaga keharmonisan antara manusia dan alam. Untuk meningkatkan kepedulian masyarakat, pemerintah juga harus membangun komunitas-komunitas kecil seperti yang dilakukan di Jepang,’” kata Ernawati.

Sementara itu, pada kesempatan sama Deputi Gubernur DKI Jakarta, Prof Sutanto Soehodo mengatakan pembangunan yang dilakukan oleh Pemerintah DKI Jakarta telah berwawasan lingkungan. Meski demikian, dai mengaku bahwa RTH yang ada saat ini memang belum ideal, karena baru mencapai 12-13 % dari angka ideal 30 % dari lahan yang ada.

Untuk itu, saat ini pemerintah juga tengah giat untuk membeli lahan untuk dijadikan green space,” ujarnya.

properti.kompas.com

Large Rectangle
Large Rectangle

Share

Follow Me