Merangkai Inovasi Agar Tetap Eksis  

Big Banner
Andrio Suhendro, Founder Logo de Corps

Andrio Suhendro, Founder Logo de Corps

INSPIRASI-Produk lokal terkadang dipinggirkan di negeri sendiri. Logo de Corps pun melakukan inovasi dan strategi agar tetap eksis. Andrio Suhendro, founder produk feshen ritel ini mengaku, masih terekam dengan jelas dimemorinya bagaimana sulitnya membesarkan produk lokal di negeri sendiri. Tak hanya saat memulainya namun tekanan tersebut masih ada hingga kini, perlakuan kurang mengenakan masih saja terjadi. Seperti beberapa waktu lalu pada sebuah pusat belanja  di Bandung Utara, brand asing menggeser keberadaan outletnya ke bagian belakang. Produk asing dikedepankan, mengambil ruangan yang tadinya ditempatinya.

Logo de Corps adalah perusahaan fesyen ritel yang menggawangi empat merek yakni Logo, Bomb Boogie, Body Talk, dan Ninety Degrees. Sejak awal 80-an Andrio meretas bisnisnya dan terbilang sudah makan asam garam di dunia fesyen, khususnya produk jeans dan pakaian kasual.  Hingga kini Logo De Corps sudah memayungi 700 gerai di Indonesia. Dari jumlah itu, ada 30 gerai toko di dalam pusat perbelanjaan. Sementara, 670 gerai merupakan gerai bersistem konsinyasi dengan pusat-pusat perbelanjaan dengan  membidik segmen kelas menengah.

Berawal dari pengalaman disingkirkan lantaran poduk lokal, Andrio kini meretas konsep jualannya dengan mengembangkan konsep street store dengan nama Logo House. Gerai mandiri tersebut mengincar suasana yang nyaman bagi para calon konsumennya yang kebanyakan anak muda penyuka kongkow alias nongkrong. Logo House nantinya tak sekadar menjadi toko fesyen. Di dalam gerai akan ada kafe yang menyajikan makanan dan minuman. Lalu, ada juga ruangan salon bagi para pengunjung yang kebetulan ingin memangkas rambut di sela-sela berbelanja produk fesyen.

Logo De Corps akan mengawali debut perdana Logo House di Kota Baru, Yogyakarta. Perusahaan tersebut akan menyulap sebuah rumah tua menjadi bangunan komersial tanpa mengubah facade  alias penampilan eksterior bangunan tersebut. Logo de Corps menargetkan proses menyulap bangunan rumah menjadi Logo House dilakukan tahun ini juga. “Kami harapkan tokonya sudah bisa beroperasi pada awal tahun depan,” harap Andrio

Bangunan tua di Yogja tersebut aka nada penambahan-penambahan tapi mempertahankan bentuk bangunan asli. Selain Yogyakarta, Logo House juga akan dihadirkan di beberapa kota luar Jawa untuk tahap pertama seperti di Renon, Denpasar, Bali. Lalu, Makassar di Sulawesi Selatan dan Palembang di Sumatera Selatan pun menjadi incaran.

Sebelumnya untuk terus eksis dan berkompetisi dalam industrinya, Logo pun memanfaatkan media digital dan sosial media. Sejak tahun 2012 Logo mulai dipasarkan lewat situs belanja online resmi milik Logo. “Sampai saat ini kontribusi belanja online masih kecil, 5 persen. Namun, ke depan online akan makin prospektif, mengingat pertumbuhan e-commerce di Tanah Air makin tinggi,” jelas Andrio.

Selain itu inovasi juga menjadi kunci sukses Logo de Corps.  Sebagai produk fesyen, inovasi produk menjadi yang utama. Oleh karena itu, dalam setahun Logo melempar 500 desain baru untuk empat brand-nya. Seperti ketika model celana jogger sedang menjadi tren, kami meluncurkan jeans dengan model jogger. Dan hebatnya dalam memproduksi produknya Logo de Corps tak memiliki pabrik, namun menggandeng banyak UKM untuk menjahit berbagai model dari empat brand yang dimilikinya namun dengan tetap menjaga kualitas dan standar produk. (Mhsyah)

propertynbank.com