Kawasan Kumuh Tamansari Jadi Eco Distrik – Property

Big Banner


BANDUNG – Sekretaris Dinas Tata Ruang dan Cipta Karya (Distarcip) Kota Bandung Tono Rusdiantono mengemukakan, pihaknya saat ini tengah mengembangkan kawasan eco distrik, di mana kawasan kumuh menjadi kawasan yang layak huni.

Untuk pilot project dipilih kawasan Tamansari, belakang Kampus Universitas Islam Bandung (Unisba). Diakuinya, kawasan Tamansari memiliki kepadatan penduduk yang tidak seimbang dengan luas wilayahnya. Untuk itu, pihaknya saat ini tengah meng kaji, design yang nantinya akan diterapkan agar tidak bersinggungan dengan harapan masyarakat di kawasan tersebut.

“Eco distrik ini berkonsep suatu kawasan yang tertata, minimal mengubah kawasan kumuh menjadi kawasan yang memiliki nilai aspek layak hidup, efisien, dan sehat ling kungan,” ungkapnya saat ditemui wartawan di kawasan Cihampelas kemarin. Mengenai konsep tersebut, Tono menyebutkan harus melalui proses yang lengkap mulai dari administrasi kewilayahan, advokasi, hingga harapan masyarakat.

Semuanya harus sesuai dengan tujuan awal terbentuknya eco distrik ini. Untuk itu kajian mengenai proses pembangunan tidak boleh bersinggungan dengan harapan war ga sekitar. Menurut dia, dari survei yang dilakukan, masyarakat sekitar berharap lingkungannya lebih baik. Namun ada pula yang mengusulkan untuk sebagian direlokasi dan bahkan mengajukan pembangunan rumah susun yang layak huni. “Soal hal ter sebut masih dalam per tim bangan, apakah nantinya akan direlokasi sebagian atau full dijadikan ruang terbuka hijau,” kata Tono.

Untuk program ini pihak Pemkot bekerjasama dengan Pe merintah Perancis dalam designtata ruangnya. Selain itu, dana yang digunakan untuk penataan kawasan ini pun bukan berasal dari Pemkot melainkan dari Pemerintah Perancis. Dengan adanya program ini, diharapkan menjadi salah satu alter natif solusi bagi pengentasan kawasan kumuh. Ber dasarkan data Distarcip, hingga Agustus 2015 terdapat 454 lokasi kumuh dengan luas total sekitar 1.457 hektare.

Tono menyebutkan, sejauh ini pihaknya sudah melakukan penataan kawasan kumuh. Kini yang tengah diproses yakni kawasan Kiara Condong belakang Bandung Trade Mall (BTM). “Kawasan itu kondisinya sangat kumuh. Belum lama ini ka mi buatkan saluran pem buangan komunal, sanitasi ling kungan, dan penataan ruang yang lebih baik,” ujarnya.

Dia mengatakan, sejauh ini kawasan kumuh di kota Bandung menurun jika dibanding kan tahun-tahun sebelum nya. Hal ini bukan terlihat dari pe nurunan jumlah kawasan kumuh, melainkan tingkat ke kumuhan kawasan itu yang ber kurang. “Sebetulnya kawasan titik rentan kumuhnya semakin me nurun, karena kami banyak ban tuan dari pusat. Ka mi juga sudah lakukan penataan dari isi tata lingkungan dan sanitasi.

Namun soal kepa datan pend u duk itu yang paling susah. Tapi minimal dari sisi sanitasi dan lingkungan membaik,” paparnya.

Kendala dalam penataan kawasan kumuh ini pun salah satunya disebabkan karena anggaran APBD minim, karena kebanyakan bantuan berasal dari APBN. Untuk tahun ini saja pihaknya sudah mendapatkan bantuan se besar Rp7 miliar un tuk pembuatan sumur artesis dari pusat.

Dia menyebutkan, kawasan terkumuh di Kota Bandung ber ada di kecamat an Bojongloa Kaler. Selain sanitasi yang tidak memadai, sarana air bersih yang minim, pengelolaan sampah yang buruk, dan tata ruang yang am buradul, kondisi ini pun diperparah dengan kepadatan penduduk yang parah.

“Bayangkan saja di sana ada sekira 500.000 KK yang tinggal. Itu untuk satu kecamatan saja. Sedangkan penduduk kota Bandung sekira 2,5 juta. Hampir seperempat warga kota ini tinggal disitu,” pungkasnya.

(rzy)

property.okezone.com

Large Rectangle
Large Rectangle

Share

Follow Me