51 Juta Orang Indonesia Masih BAB Sembarangan

Big Banner

JAKARTA, KOMPAS.com – Minimnya infrastruktur sanitasi di beberapa wilayah di Indonesia menimbulkan masalah. Salah satunya adalah masih banyaknya masyarakat yang berperilaku buang air besar sembarangan (BABS).

Data gabungan UNICEF dan WHO menunjukkan tahun 2015 ini ada 51 juta penduduk Indonesia yang masih melakukan BABS.

Jumlah itu menempatkan Indonesia sebagai negara nomor dua dengan perilaku BABS paling banyak di dunia, di bawah India.

Atas dasar itu, UNICEF menjalankan Program Tinju Tinja sebagai sarana untuk memberikan edukasi dan mengajak masyarakat membahas isu BABS yang minim perhatian dari pemerintah.

Tinju Tinja UNICEF ini sejalan dengan program 100 0 100 milik Pemerintah Indonesia.

Adapun program 100 0 100 merupakan inisiasi Kementerian Pekerjaan Umum dan perumahan Rakyat (PUPR) untuk menciptakan pemukiman dengan standar 100 persen akses air minum, 0 persen kawasan kumuh perkotaan, dan 100 persen akses sanitasi.

“Masalah sanitasi adalah masalah mengubah perilaku. Tantangan dari program 100 0 100 milik pemerintah adalah mengubah perilaku masyarakat daerah dengan sanitasi buruk,” papar Kasubdit Air Minum dan Air Limbah BAPPENAS, Eko Wiji Purwanto, di Jakarta, Kamis (19/11/2015).

Selain mengubah perilaku, pemerintah bersama UNICEF juga akan menyosialisasikan dampak penting dari sistem atau infrastruktur sanitasi yang baik.

Selama ini, kebutuhan akan infrastruktur sanitasi masih dipandang sebelah mata.

“Selain mengubah perilaku, kesulitannya adalah isu sanitasi ini kalah pamor dibanding pembangunan jembatan dan jalan. Mereka berpendapat kalau air itu banyak dan kebutuhan akan hal itu bisa dilakukan di mana saja,” ungkap Eko

Munculnya perilaku buruk berupa BABS akibat kurang memadainya infrastruktur sanitasi juga berdampak penyakit diare dan parasit perut penyebab malnutrisi.

Diare sendiri merupakan penyebab 9 persen kematian balita di dunia tiap tahunnya.

UNICEF mencatat setidaknya ada 1,7 miliar kasus diare yang menimpa balita di seluruh dunia. Sekitar 300 ribu balita meninggal tiap tahunnya atau 800 balita per hari akibat diare yang timbul dari sanitasi dan kebersihan yang buruk.

Oleh karena itu, Program Tinju Tinja bisa menjadi penyulut bagi pemerintah untuk segera mempercepat penyelesaian Program 100 0 100.

“(100 0 100) sangat penting. Karena kalau nggak sekarang kapan lagi, sementara kebutuhan akan infrastruktur sanitasi yang baik semakin mendesak,” sebut Eko.

properti.kompas.com

Large Rectangle
Large Rectangle

Share

Follow Me