Pembelian Tunai Bertahap Kurangi Aspek Perlindungan Konsumen

Big Banner

JAKARTA, jktproperty.com – Bank Indonesia mengungkapkan tren pembelian properti melalui angsuran langsung kepada pengembang mengalami kenaikan cukup dalam tiga tahun terakhir. Namun tren ini dikhawatirkan kalangan perbankan akan berpotensi mengurangi aspek perlindungan konsumen.

Survei Bank Indonesia menunjukkan, porsi pembelian properti melalui cara pembayaran tunai bertahap mencapai 16,36% pada kuartal III/2015, bahkan sempat mencapai 18,78% pada kuartal II 2015. Porsi tersebut lebih tinggi dibandingkan dengan posisi pada 2012 sebesar 11,33%. Di sisi lain pangsa pembelian properti melalui kredit perbankan mengalami tren penurunan.

Per kuartal III/2015, pembelian properti melalui kredit perbankan mencapai 75,5%, naik dari posisi kuartal II 2015 sebesar 72,2%. Adapun, pada 2012, porsi penggunaan kredit untuk membeli properti mencapai 80%. Sebagian besar pembelian properti lewat KPR tercatat untuk pembelian rumah tipe kecil.

Setahun belakangan cara pembayaran tunai bertahap banyak ditawarkan oleh developer karena adanya kebijakan bank Indonesia (BI) yang melarang bank membiayai property indent atau belum dibangun. Penawarannya bervariasi, 12-36 bulan, bahkan ada yang hingga 60 bulan atau lima tahun.

Menurut Arief Rahardjo, Head of Research & Advisory Cushmant & Wakefield, sebuah perusahaaan konsultan dan manajemen properti, dalam beberapa hal sistem cash installment lebih menguntungkan dibandingkan dengan skema KPR-KPA.

Sistem cash installment juga sudah diberlakukan lama khususnya untuk pembelian unit apartemen. Cash intallment cukup menarik bagi kalangan yang ingin menjaga privasinya atau tidak ingin diketahui jumlah penghasilannya. Berbeda dengan KPR/KPA, cash installment tidak perlu melampirkan NPWP konsumen.

Sementara itu Suryanti Agustinar, SVP Non Subsidized Mortgage & Consumer Lending Division PT Bank Tabungan Negara Tbk, menilai cicilan kepada pengembang lebih berisiko dibandingkan dengan cicilan kepada perbankan. “Bagaimana nanti perlindungan konsumennya?” ujar Yanti seperti dikutip Bisnis.com.

Dia mengatakan, tren pembelian KPR melalui cicilan kepada pengembang tengah meningkat, terutama untuk pembelian apartemen. Penyaluran kredit pemilikan apartemen (KPA) bank spesialis kredit perumahan itu anjlok hingga 50%.

Kendati anjlok, Yanti mengaku tidak khawatir karena penurunan KPA bisa diimbangi dengan kenaikan kredit konstruksi. Dia menjelaskan, sejak kredit inden dibatasi pada 2013 lalu, penyaluran kredit konstruksi BTN justru meningkat.

Yanti menyebut, para pengembang kini memanfaatkan lebih banyak kredit konstruksi untuk membangun proyek properti. Survei BI juga menunjukkan, porsi penggunaan pinjaman perbankan mencapai 29,18%, relatif stabil sejak dua tahun terakhir. Sementara itu, porsi sumber dana pembangunan proyek dari uang muka nasabah mengalami penurunan dari 10,69% pada 2013 menjadi 8,81% pada kuartal III/2015. (PIT)

jktproperty.com