Rumah di Bawah Rp 1 Miliar Paling Favorit

Big Banner

Jakarta – Pengamat menilai tahun 2016 pasar properti akan tumbuh lebih baik dibandingkan dengan tahun ini. Pasar properti yang masih memikat adalah hunian untuk kelas menengah dengan kisaran harga rumah di bawah Rp 1 miliar per unit.

Chief Executive Officer (CEO) Indonesia Property Watch (IPW) Ali Tranghanda menilai bahwa masyarakat masih memiliki kekuatan untuk membeli rumah. Namun, ujarnya, karena situasi ekonomi yang belum stabil banyak masyarakat dan terutama kelas menengah di Indonesia ini lebih menahan diri.

“Orang lebih memilih cari aman dulu. Kedepan masyarakat untuk membeli rumah pasti akan meningkat terutama masyarakat menengah Indonesia ini yang masih kuat,” kata Ali Tranghanda, kepada Investor Daily, pekan lalu.

Menurut Ali, tipe hunian atau rumah yang banyak diminati adalah untuk kelas menengah dengan harga di bawah Rp 1 miliar. Sedangkan yang membanderol di atas harga tersebut masih sangat sedikit dan lamban. “Paling laku keras saat ini dan tahun depan adalah harga rumah dibawah Rp1 miliar. Baik itu untuk hunian tapak maupun juga untuk hunian vertikal alias apartemen,” katanya.

Dia mengatakan, selama ini pasar kelas menengah kurang begitu tergarap oleh pengembang properti. Umumnya pengembang lebih memilih pasar untuk kelas menengah atas, yakni yang harganya di atas Rp 1 miliar. Selain itu, banyak pengembang yang bermain di rumah kelas masyarakat berpenghasilan rendah (MBR). Padahal, katanya, kelas menengah juga pasar cukup besar di Indonesia.

Pengamat properti Andreas Siregar pernah mengatakan, saat ini dari sisi pengembang yang mesti dilakukan adalah mengembangkan properti yang memang menjadi kebutuhan masyarakat seperti rumah tinggal (tapak maupun vertikal). Hunian tersebut adalah yang dibanderol terjangkau oleh kocek konsumen kebanyakan.
“Kisaran harga rumah atau hunian yang tetap diincar masyarakat adalah harga rumah/hunian di bawah Rp 1 miliar dimana pembelinya adalah paraend user atau yang dihuni sendiri,” ujar CEO Raja School of Property itu.
Dia memperkirakan ada pertumbuhan kapitalisasi pasar di segmen hunian tapak. Pada 2015, kapitalisasi pasar perumahan secara nasional ditaksir menyentuh sekitar Rp 88,47 triliun. Torehan tersebut meningkat sekitar 17% dibandingkan dengan setahun sebelumnya yang sekitar Rp 75,88 triliun.

Kota Prospektif

Sementara itu, Ali Tranghanda mengatakan, kota-kota yang prospektif untuk pengembangan kawasan hunian di antaranya adalah Lampung, Medan, dan Batam untuk kawasan Sumatera. Lalu, untuk di Kalimantan antara lain adalah Balikpapan. Sedangkan untuk kawasan Indonesia timur saat ini yang mulai menggeliat adalah Manado sebagai kota terbesar kedua setelah Makasar.

“Manado ini luar biasa pertumbuhan ekonominya, yaitu di atas 6% dan penduduk yang sudah mulai meningkat menjadi di atas 500 ribu jiwa,” kata dia.

Sedangkan di pulau Jawa, lanjutnya, masih berkutat di kawasan di Jabodetabek. Lalu, Surabaya (Jawa Timur), Semarang (Jawa Tengah), dan Bandung (Jawa Barat). Kota-kota tersebut masih sangat potensial untuk dikembangkan. Perkembangan ekonomi Jawa dinilai lebih cepat, begitu juga dengan harga propertinya yang meningkat sangat cepat.

Menurut Ali, saat ini sudah banyak pengembang besar yang mengincar proyek properti di luar Jawa. Dia mencontohkan, Lippo Group, Ciputra, Wika, dan Paramount yang mulai melirik kawasan Manado.

Bahkan, lanjut dia, Paramount melirik hunian tapak di kota Manado dengan menawarkan hunian seharga Rp 995 jutaan per unit. Selain Paramount Land, tambah dia, di kawasan Manado ada pengembang besar seperti Ciputra Group yang membangun hunian tapak. Selain itu, AKR Land, Lippo Group, dan Wika.

Sedangkan di kawasan Jabodetabek, ujarnyam pengembang properti yang menyasar kelas menengah adalah Progress Group. Pengembang ini menggarap hunian tapak di kawasan Tangerang Selatan dengan harga Rp 500 jutaan per unit.

Kota-kota prospektif itu terbantu oleh pengembangan infrastruktur yang dibangun pemerintah Ali mencontohkan, pembangunan jalan tol Trans Sumatera dan jalur kereta api di Jabodetabek. Infrastruktur itu akan mendongkrak pertumbuhan properti di kawasan tersebut.

Contoh lain, katanya, kawasan Jabodetabek yang terus ditopang oleh pembangunan akses jalan tol, akses kereta api, dan kereta ringan (LRT). “Infrastrutkur seperti jalan, jalan tol, akses pelabuhan, dan transportasi massal bakal mendukung perkembangan kota baru dan sudah tentu mendongkrak properti,” jelasnya.

Investor Daily

/EDO

Investor Daily

beritasatu.com