Penjualan Pameran Lesu, Pengembang Optimis Properti ‘Booming’ 2017

Big Banner

Sejumlah paket kebijakan yang digelontorkan pemerintah untuk kembali menggairahkan pasar properti di Tanah Air, sepertinya belum begitu berdampak signifikan. Masih lambatnya pertumbuhan ekonomi, membuat sebagian besar orang cenderung menahan diri untuk berinvestasi di properti. 

Setidaknya, gambaran tersebut dapat dilihat di gelaran pameran Real Estat Ekspo 2015 yang berlangsung di Jakarta Convention Centre (JCC), Senayan. Ditemui di hari pamungkas gelaran pameran, Minggu (23/11), beberapa pengembang mengakui, untuk angka penjualan masih belum sebaik tahun sebelumnya.  

“Untuk kondisi ekonomi saat ini sebenarnya sudah terus membaik. Dorongan kebijakan-kebijakan dari pemerintah juga sudah cukup membantu para pengembang dalam menjalankan bisnisnya. Tapi memang ada beberapa faktor eksternal yang cukup mempengaruhi orang untuk berinvestasi di properti,” kata Arief Aryanto, Direktur Pendana Gapura Prima Tbk kepada Rumahku.com.  

BACA JUGA : BTN DAN MUHAMMADIYAH JALIN KERJASAMA KPR SYARIAH

Beberapa faktor eksternal yang cukup memengaruhi menurut Arief antara lain, persoalan suka bunga dan nilai dolar yang masih cenderung menguat. Kondisi tersebut, menurut Arief, membuat orang saat ini lebih memilih untuk berinvestasi di valas dan saham ketimbang di properti. 

“Tapi itu hanya sesaat, orang akan kembali berinvestasi di properti. Mereka sadar, nilai valas dan saham itu fluktuatif, sedang properti tidak, bahkan nilainya pasti naik terus.  Properti itu investasi paling aman,” jelasnya. 

Menghadirkan berbagai macam produknya di Real Estate Expo 2015, mulai yang dari harga ratusan hingga miliaran rupiah, menurut Arief saat ini produk dengan harga terjangkau, seperti halnya di bawah Rp 800 juta, masih menjadi yang paling banyak diminati pengunjung. 

“Perbandingan penjualan produk di bawah 1 miliar dengan yang di atas 1 miliar sekitar 70:30 persen. Produk-produk dengan harga terjangkau masih yang menjadi idola,” kata Arief.  
Saat disinggung soal target penjualan selama pameran, Arief mengatakan ia optimis sekira 70 persen dari angka yang ditargetkan, yaitu sebesar Rp 100 milar akan tercapai. 

“Saat ini sudah mencapai Rp 50 miliar, tapi ini kan masih siang, pamerannya kan masih berjalan sampai nanti malam. Saya optimistis, 70 persen dari target penjualan bakal tercapai,” kata Arief. 

Bukan hanya Gapura Prima saja yang merasakan angka penjualan properti agak terkoreksi turun, PT Elang Group yang bermain di perumahan sederhana pun turut merasakannya. Padahal terpantau, booth Elang Group selalu menjadi yang paling ramai didatangi pengunjung. 

“Kami menawarkan produk mulai dari rumah bersubsidi seharga 126 jutaan, sampai produk real estate seharga Rp 600 juta. Yang paling banyak diminati tentunya produk rumah bersubsidi. Perbandingan penjualannya 60 persen subsidi, 30 persen komersil, 10 persen real estate,” kata Tiar Abdillah, Koordinator Wilayah PT Elang Group. 

Berkaitan dengan target penjualan, menurut Tiar pencapaian penjualan selama pameran masih jauh dari apa yang mereka targetkan. Dari target penjualan 1000 unit rumah, baru tercapai sekira 10 persen saja. 

“Saya tidak tahu juga salahnya di mana, apa kami kurang promosi atau target kami yang ketinggian, tidak tahu? Tapi memang satu-dua bulan ini penjualan terasa drop,” katanya. 

Sementara itu di satu sisi, meski mengakui penjualan properti tidak selancar sebelumnya, pihak Agung Podomoro Land yakin bidikan angka penjualan yang telah mereka targetkan, bakal tercapai 90-100 persen.  

“Penjualan memang agak terpengaruh, tapi tidak terlalu signifikan. Kami yakin target penjualan 90-100 persen bakal tercapai,” kata Emil Sugeng Utomo, Deputy General Manager di Grand Madison, Podomoro City. 

Meski enggan mengatakan besaran angka yang mereka targetkan, Emil mengatakan, untuk penjualan produk-produk dengan harga terjangkau, di bawah Rp 1 miliar, menjadi yang paling banyak diminati pengunjung. Perbandingan penjualan antara yang di bawah Rp 1 milar dengan yang di atas Rp 1 miliar adalah 60:40 persen. 

“Saya rasa kalau untuk yang di bawah 1 miliar, tidak terlalu terpengaruh ya,” kata Emil. 

Seirama dengan Areif, Emil pun optimistis pada kuartal II tahun 2016, kondisi pasar properti akan kembali stabil. Mereka pun memperkirakan pada 2017-2018 bakal terjadi booming properti.  

“Saat ini tren penjualannya sudah terus meningkat. Pada kuartal II tahun 2106 akan stabil, dan memasuki 2017 saya perkirakan bakal terjadi booming properti. Jadi sebenarnya saat ini merupakan waktu yang tepat untuk membeli properti. Karena kalau sudah booming, tentu harganya juga sudah semakin naik,” kata Arief.

 

rumahku.com