Pembatasan Kredit Inden Dinilai Bisa Jadi Bumerang

Big Banner

Bisnis.com, JAKARTA – Sejumlah perbankan menilai pembatasan kredit untuk unit properti inden dinilai berpotensi menjadi bumerang.

Alih-alih mencegah gelembung properti, kebijakan tersebut malah meningkatkan pembiayaan oleh pengembang yang justru lebih berisiko.

Head of Secured Loan PT Bank OCBC NISP Tbk, Veronika Susanti, mengatakan kebijakan Bank Indonesia yang hanya membolehkan penyaluran kredit untuk fasilitas kredit pertama berimbas pada praktik cicilan properti kepada pengembang. Bahkan, sejumlah pengembang memberikan cicilan hingga 120 bulan atau sepuluh tahun.

“Ini justru lebih riskan terhadap ekonomi Indonesia. Menurut saya bubble gak bisa ditahan dengan mekanisme (cicilan kepada pengembang) seperti ini. Kalau cicilan macet, developer bisa apa?” jelasnya .

Veronika mengimbuhkan, praktik cicilan properti langsung kepada pengembang terjadi di segmen menengah ke atas. Dia menyebut, di segmen ini, porsi pembelian properti melalui kredit perbankan hanya tersisa 3%.

“Menurut saya ini menjadi bola liar, BI tidak punya akses terhadap data nasabah ,” tukasnya.

Senada, Suryanti Agustinar, SVP Non Subsidized Mortgage & Consumer Lending Division PT Bank Tabungan Negara Tbk, menilai cicilan kepada pengembang lebih berisiko dibandingkan dengan cicilan kepda perbankan. “Bagaimana nanti perlindungan konsumennya?,” ujar Yanti.

Dia mengakui, tren pembelian KPR melalui cicilan kepada pengembang tengah meningkat, terutama untuk pembelian apartemen. Penyaluran kredit pemilikan apartemen (KPA) bank spesialis kredit perumahan itu anjlok hingga 50%.

properti.bisnis.com