Mimpi, Guru Honorer Punya Rumah Sendiri!

Big Banner

TANGERANG SELATAN, KOMPAS.com – Permasalahan kepemilikan rumah pribadi tak hanya terjadi pada guru berstatus pegawai negeri sipil (PNS). Hal lebih parah justru terjadi pada guru honorer.

Salah seorang guru honorer di SMAN 1 Tangerang Selatan, Dodi Arisandi mengungkapkan kesulitannya memperoleh rumah pribadi.

“Punya rumah sendiri masih mimpi bagi saya. Sekarang sajamasih ngontrak rumah di Pamulang bersama istri dan empat anak saya,” ucap Dodi saat ditemui selepas mengajar mata pelajaran kewirausahaan, di SMAN 1 Tangerang Selatan, Rabu (25/11/2015).

Mengontrak rumah mau tak mau menjadi pilihan, mengingat saat ini pria berkacamata itu masih belum memiliki dana cukup untuk membeli rumah. Padahal ia punya niat 100 persen untuk bisa memiliki rumah pribadi.

Memiliki rumah pribadi, menurut Dodi bisa menjadi warisan bagi anak-anak dan istrinya.

“Rumah setidaknya menjadi sesuatu yang bisa ditinggalkan buat anak dan istri saya. Karena kalau punya rumah sendiri, uang buat ngontrak bisa dialokasikan ke hal yang lain,” imbuh Dodi.

Meski begitu, Dodi mengakui keinginannya itu belum bisa terealisasi dalam waktu dekat. Penyebabnya tak lain adalah dana yang belum terkumpul.

Berbeda

Hal itu bisa dimaklumi sebab Dodi hanyalah seorang guru honorer dengan fasilitas berbeda dibanding guru PNS. Perbedaan paling mencolok ada pada perolehan pendapatan.

“Beda gaji dengan guru PNS sekitar 40 persen. Kalau guru PNS dapat gaji dari pusat dan sekolah, saya dapat dari Pemerintah Daerah (Pemda) sekitar 1 juta dan juga dari sekolah,” ungkap Dodi.

Perbedaan lainnya terletak pada tunjangan fasilitas. Jika guru PNS otomatis memperoleh asuransi semacam BPJS, ASKES, dan Jamsostek, lain halnya dengan Dodi.

“Jadi nggak ada asuransi tapi buat sendiri sama dengan kebijakan fasilitas rumah. Kalo mau buat BPJS dan Jamsostek ya dipotong gaji,” tambah Dodi yang telah menjadi guru honorer sejak tahun 2006.

Sebagai guru honorer, Dodi berjibaku sendirian dalam memenuhi kesejahteraannya. Pemerintah dan PGRI, menurut Dodi, cenderung tidak memberikan perhatian lebih bagi guru honorer.

“PGRI belum bisa membantu guru di tingkat SMA, setiap pertemuan selalu dibahas tentang kesejahteraan termasuk rumah tapi ya nggak ada realisasinya,” keluhnya.

Dodi pun memiliki keinginan untuk segera menjadi guru berstatus PNS. Namun, dirinya masih belum mengetahui jadwal sertifikasi guru yang serba tidak pasti.

Bertepatan dengan Hari Guru 2015, Dodi memiliki harapan kepada pemerintah terkait nasibnya dan rekan-rekan guru honorer lainnya.

“Harapannya ada sedikit perhatian dari pemerintah untuk guru honorer karena selama ini, tunjangan hanya untuk guru yang sudah jadi PNS, bukan buat guru honorer. Memang benar masa depan guru terjamin tapi itu buat guru PNS bukan buat honorer,” ucap Dodi.

properti.kompas.com

Large Rectangle
Large Rectangle

Share

Follow Me