AREBI Summit 2015, Bahas Prospek Properti Indonesia

Big Banner

AREBI (Asosiasi Real Estate Broker Indonesia) baru saja merampungkan agenda tahunannya, Rabu (25/11) lalu. Bertajuk Real Estate Summit 2015, acara yang mengundang 1.000 orang broker itu membahas tentang prospek properti di masa depan dan cara menjadi agen properti berkualitas. 

Ronny Wuisan, Associate Director of Sales DPP AREBI (2015-2018) yang juga menjabat sebagai ketua panitia Real Estate Summit 2015 menjelaskan kepada Rumahku.com, bahwa di tiap tahunnya, acara tersebut selalu mengangkat isu yang menjadi kekhawatiran para broker properti dengan segala jalan keluarnya. 

“Seperti yang terjadi pada tahun ini, Indonesia mengalami kelesuan properti, untuk itu kami mengangkat tema tentang ‘The Future of Property’. Tujuannya, selain sebagai ajang kumpul, para broker juga bisa mendapat masukan tentang bagaimana dan apa yang harus dilakukan para member broker,” ucapnya ketika ditemui di Novotel Hotel, Tangcity, Tangerang.

Dimulai sejak pukul 09.30 WIB – 17.00 WIB, acara tersebut terdiri dari empat sesi, yakni talkshow mengenai ‘Perlambatan Ekonomi’, talkshow ‘Future of Properti’, talkshow pentingnya LSP (Lembaga Sertifikasi Properti), dan ditutup dengan training singkat.  

Mengenai perlambatan ekonomi, beberapa pembicara dan moderator mengatakan bahwa product knowledge penting dimiliki oleh member broker. Tidak hanya mengatakan hal umum seperti harga murah atau tahun depan bakal naik, tapi juga mampu memberi solusi dari apa yang dibutuhkan konsumen.  

Sementara pada tema Future of Property, beberapa narasumber kawakan seperti David Sumual (Kepala Ekonom group BCA), Ishak Chandra (CEO Strategic Development & Services Sinar Mas Land), Robert Yapari (Dirut Trivo Group), Darmadi Darmawangsa (mantan Ketua DPP AREBI), dan Hendry Tamzel (Associate Director Ciputra Group) dipilih untuk membahas tren properti.

Hasilnya, ada empat poin menarik yang menjadi pembahasan. Pertama, sektor properti kini mulai diperhatikan oleh pemerintah sebagai penunjang ekonomi negara. Beberapa kebiajakan terkait properti dan masifnya pembangunan infrastruktur menunjukan kepedulian tersebut. Setidaknya, 68 persen pertumbuhan ekonomi domestik dipengaruhi oleh properti. 

Kedua, properti Indonesia masih akan terus tumbuh dan agak jauh dari bubble. Sekarang properti masih berada di jalur yang tepat, jika pemerintah terus mengawasi dengan baik, properti Indonesia akan semakin menggiurkan jika dibandingkan dengan negara Emerging Market lainnya. 

Ketiga, kerjasama atau partnership dengan berbagai pihak diperlukan para pengembang properti untuk memberi inovasi pada kawasan yang dikembangkannya. Gaya dan sentuhan pihak lain akan membuat proyek yang dibangun tampil agak berbeda meski masih berada dalam satu payung pengembang. 

Keempat, peran broker kian menarik perhatian para pengembang. Jika sebelumnya pengembang hanya memberi jatah paling banyak 20 persen atas proyek yang dibangunannya, kini kepercayaan sudah diberikan setengah. Setidaknya, beberapa pengembang sudah mulai menjual produknya dengan rasio 50 : 50 antara marketing in house dengan agen properti.

rumahku.com