Bima Arya Lakukan Moratorium Pembangunan Hotel dan Mal

Big Banner

Housing-Estate.com, Jakarta – Walikota Bogor Bima Arya akan mengubah orientasi pembangunan Kota Bogor, Jawa Barat. Pembangunan yang terkonsentrasi di pusat kota akan disebar ke wilayah-wilayah pinggiran. Dengan menciptakan pusat-pusat kegiatan di pinggiran kota beban kota yang terlampau berat akan berkurang. “Untuk itu saya menginstruksikan moratorium pembangunan hotel dan mal di Kota Bogor kecuali yang sudah berjalan,” ujar Bima pada diskusi mengenai urbanisasi berkelanjutan di Jakarta, Kamis (26/11).

Jalan bogor

Bima perlu menata pembangunan Kota Bogor karena kota ini sudah terlampau padat,  persoalannya tambah kompleks, dan kenyamanannya berkurang. Ia menyebutkan kegiatan yang terkonsentrasi di pusat kota itu disebabkan konsep pembangunan yang terpusat (radial concentrate).  Pusat pemerintahan, bisnis, pendidikan, belanja, hingga tempat peribadatan berada di kota. Selain itu sebagai kota penyangga Jakarta pertumbuhan perumahan di Bogor tumbuh pesat. Mereka yang tinggal di Bogor itu banyak yang bekerja di Jakarta sehingga menciptakan gelombang komuter cukup besar dan membuat kemacetan di Kota Bogor.

“Setiap hari ada 800 ribu komuter dari Bogor ke Jakarta dan setiap minggu (akhir pekan) ada 200 -300 ribu orang masuk Kota Bogor untuk berwisata. Karena itu kami akan melakukan redistribusi fungsi dengan menggerakan pusat-pusat kegiatan ke pinggir kota,” imbuhnya.

Saat ini Pemkot Bogor tengah membahas rencana detil tata ruang wilayah (RTRW) bersama DPRD. Ke depan, Kota Bogor akan dikembalikan sebagai kawasan heritage atau kota pusaka. Fungsi-fungsi perdagangan, wisata, dan lainnya akan didistribusikan ke berbagai wilayah sesuai peruntukannya. Kawasan selatan diprioritaskan sebagai kawasan wisata, barat untuk pertanian, dan utara untuk bisnis.

Dalam kesempatan itu sosiolog Universitas Gajah Mada (UGM) Arie Sudjito mengingatkan agar dalam membangun kota jangan hanya fisik tapi juga memperhatikan aspek sosioantropologis. Selama ini publik merasa tidak ikut memiliki kotanya karena tidak merasa menjadi bagian dari pembangunan. “Jangan memaknai perpindahan seseorang ke kota hanya dari kacamata ekonomi. Harus diciptakan transformasi pada masyarakat agar mereka lebih berdaya untuk ikut membangun peradaban kota,” ujarnya.

housing-estate.com

Large Rectangle
Large Rectangle

Share

Follow Me