Lonjakan Penduduk Picu Ketimpangan Urbanisasi

Big Banner

KOMPAS.com – Pada tahun 1950, desa nelayan Shenzhen di tenggara China memiliki 3.148 penduduk. Angka ini diprediksi menjadi 12 juta jiwa pada tahun 2025.

Demikian halnya dengan Kinshasa, menurut Perserikatan Bangsa-Bangsa, jumlah penduduknya bakal melonjak menjadi 16 juta jiwa. Sebelumnya, populasi ibu kota Kongo ini hanya 200.000 jiwa.

Sementara London mengalami peningkatan penduduk menjadi 8,6 juta jiwa sejak awal perang dunia kedua.

Hal itu sekaligus menyangkal tren, bahwa banyak kota di Eropa dan Amerika Utara yang mengalami pertumbuhan populasi sedikit atau bahkan negatif.

ThinkStock Menara Big Ben dan Sungai Thames di London, Inggris

Dibandingkan dengan kota-kota global lainnya, London beringsut maju, dengan penambahan sembilan warga baru per satu jam.

Pertumbuhan ini menjadikan ibu kota Inggris tersebut menampung tambahan penduduk lebih dari satu juta orang pada tahun 2030.

“Dunia sekarang menuju mengarah ke perkotaan daripada pedesaan dengan prediksi 70 persen pada tahun 2050,” tulis Ricky Burdett dan LSE Cities.

Pertumbuhan di kota-kota mapan Eropa dan Amerika Utara mulai cepat pada abad ke-19. Sebagian besar mencapai puncaknya pada abad pertengahan 20.

Sementara daerah lain di dunia juga mengalami pertumbuhan paling signifikan sejak 1950-an. Tokyo tumbuh lebih dari setengah juta penduduk setiap tahun selama empat dekade (1950-1990).

Begitu pula dengan Mexico City dan São Paulo yang meningkat lebih dari 300.000 jiwa, dan Mumbai sekitar 240.000 jiwa.

Satu-satunya pengecualian dalam periode ini adalah kota-kota di China dan sub-sahara Afrika, yang hanya mengalami pertumbuhan moderat.

Meski demikian, dari tahun 1990-an dan seterusnya, dengan dampak globalisasi dan ekonomi yang terbuka, kota-kota di China terus tumbuh pesat di selatan dan tenggara Asia.

Sebut saja, wilayah metropolitan selatan Guangdong, yang mencakup Shenzhen, Guangzhou dan Dongguan. Ketiga kota ini mencatat jumlah penduduk 5,5 juta jiwa pada tahun 1990.

Jumlah tersebut meningkat enam kali lipat mencapai hampir 32 juta hanya dalam dua dekade.

“Hasil dari proses pertumbuhan dan perubahan ini adalah distribusi yang tidak merata akan urbanisasi di seluruh dunia,” jelas Burdett.

Eropa, Amerika Selatan dan Amerika Utara merupakan wilayah dengan urbanisasi terbanyak. Penduduk yang tinggal di perkotaan masing-masing 73 persen, 83 persen dan 82 persen.

Adapun pertumbuhan penduduk Afrika meningkat sekitar 40 persen dan Asia 48 persen. Kedua wilayah ini akan mengalami pertambahan eksponensial dalam beberapa dekade mendatang.

“Hal ini berangkat dari efek gabungan antara peningkatan angka kelahiran dan migrasi,” tandas Burdett.

properti.kompas.com

Large Rectangle
Large Rectangle

Share

Follow Me