BTN Optimistis Kredit Perbankan di Sektor Properti 2016 Lebih Baik

Big Banner

JAKARTA, jktproperty.com – Bank BTN mengungkapkan dengan membaiknya kondisi ekonomi nasional tahun depan yang diprediksi akan tumbuh lebih baik dari tahun ini, bisnis properti di dalam negeri akan berada pada posisi dimana supply dan demand pembangunan perumahan yang seimbang. Hal ini mengindikasikan bahwa prospek bisnis properti akan semakin membaik dan mampu mendorong pertumbuhan kredit perbankan 2016 menjadi lebih baik.

Hal itu ditegaskan Dirut Bank BTN Maryono saat membuka seminar BTN Outlook Ekonomi, Perbankan dan Properti 2016 di Jakarta, Kamis (10/12). Pada kesempatan ini sejumlah stakeholder dan pemangku kebijakan hadir dan memberikan arahan untuk bisnis properti 2016.

Outlook ini diperlukan sebagai pedoman dalam menetapkan strategi bisnis. Dengan melihat pertumbuhan ekonomi yang diprediksi lebih baik dari tahun lalu, BTN optimististis bisnis properti akan berjalan lebih baik dan begitu pula dengan penyaluran kredit perbankan di sektor properti,” katanya.

Menurut dia, bagi BTN, penyelenggaraan seminar BTN Outlook Ekonomi, Perbankan dan Properti 2016 ini penting untuk diketahui oleh seluruh pihak. “Kami ingin outlook ini fokus mencakup industri strategis yang mendukung ekonomi nasional. Semoga ini menjawab kebutuhan banyak pihak untuk mengetahui arah bisnis tahun 2016,” tambahnya.

Penyelenggaraan seminar BTN Outlook Ekonomi, Perbankan dan Properti 2016 dilakukan dalam rangka HUT ke-39 KPR Bank BTN yang diperingati setiap tanggal 10 Desember dan tahun 2015 ini masuk pada usia 39 tahun. BTN dalam sejarah pertama kali merealisasi KPR di Indonesia pada tanggal 10 Desember 1976 di kota Semarang. Sampai dengan September 2015 Bank BTN telah membiayai kredit sekitar Rp145 triliun dan telah dimanfaatkan oleh lebih dari 3,5 juta keluarga di Indonesia. Jika rata-rata satu rumah diisi oleh 4 orang, maka kredit dari Bank BTN itu sudah dinikmati oleh sekitar 14 juta lebih keluarga di Indonesia.

Lebih lanjut Maryono mengatakan kredit yang disalurkan Bank BTN untuk pembiayaan perumahan juga telah berdampak pada menggeliatnya sektor industri yang terkait dengan pembangunan perumahan. Industri ini akan terus tumbuh begitu pembangunan perumahan dilakukan di sebuah lokasi atau wilayah. Tumbuhnya industri tersebut secara tidak langsung mendorong sekaligus memperkuat ekonomi nasional.

“Dan ini belum disadari betul oleh semua pihak bahwa ternyata pembiayaan perumahan itu telah membuat sektor industri terkait tahan banting terhadap kondisi ekonomi 2015. Bahkan efek domino dari kredit pada sektor pembiayaan perumahan tersebut telah mendorong tumbuhnya PDB nasional,” tutur Maryono.

Siklus berantai dalam pembiayaan perumahan sebagai penguat sendi-sendi ekonomi bangsa sudah teruji. Tahun ini Bank BTN dengan core business dalam pembiayaan perumahan berada pada posisi yang sangat baik, dimana kondisi ekonomi nasional sedang dalam posisi perlambatan. “Kinerja bisnis Bank BTN tahun 2015 sangat bagus di tengah pelemahan ekonomi nasional,” tegas Maryono.

Maryono menambahkan untuk 2016 pihaknya optimis kinerja perseroan akan lebih baik. 2015 dengan kondisi ekonomi yang tidak kondusif telah membuat ketidakseimbangan antara supply dan demand di bidang kebutuhan rumah yang terus tumbuh di dalam negeri.

Program sejuta rumah telah menjadi motor penggerak kebutuhan rumah menjadi lebih tinggi. Ini karena masyarakat diberikan kesempatan oleh pemerintah melalui program ini untuk memiliki rumah dengan cara mudah, cepat dan murah. Jika dengan kondisi pelemahan ekonomi tahun 2015 antara supply dan demand tidak seimbang dan kinerja BTN tumbuh diatas rata-rata industri, maka dengan membaiknya ekonomi 2016 akan mendorong keseimbangan antara supply dan demand, yang akan mendongkrak kembali kinerja Bank BTN lebih baik lagi.

Prediksi Ekonomi 2016

Seminar outlook ini diharapkan akan memberikan prediksi ekonomi 2016 akan seperti apa. Dalam seminar ini telah mengundang Menteri BUMN, Bank Indonesia dan OJK. Tema inti yang dibawakan oleh Bank Indonesia adalah Membangun Sektor Properti Sekaligus Menjaga Keseimbangan Makro Ekonomi. Sementara OJK akan membawakan tema Ekspansi Kredit Properti dalam Koridor Kehati-hatian. Pengamat perbankan dan ekonomi makro juga dihadirkan dalam seminar ini. Dalam seminar ini juga akan meminta sharing experince dari WSBI untuk mendapatkan pandangan tentang bisnis bank dan ekonomi dunia 2016 seperti apa.

Seperti diketahui Bank Dunia memperkirakan laju pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia untuk tahun 2016 berada di angka 5,3%. Namun, proyeksi ini tetap disertai risiko seperti kemungkinan naiknya suku bunga Amerika Serikat (AS), perlambatan di negara-negara mitra dagang seperti Tiongkok, pelemahan di sektor swasta akibat depresiasi nilai tukar dan berkurangnya marjin keuntungan, serta kemarau akibat pola cuaca El Nino.

Dalam menghadapi volatilitas dunia yang menghambat pertumbuhan ekonomi dalam negeri, upaya pemerintah yang telah berjalan seperti pemberian stimulus, reformasi kebijakan, dan peningkatan kualita

s belanja negara diharpakan akan dapat membantu ekonomi Indonesia tahun 2016 lebih baik.

Upaya-upaya yang dilakukan pemerintah yang tertuang dalam berbagai bentuk paket kebijakan tahun 2015 yang bertujuan untuk membantu dunia usaha dan masyarakat serta mereformasi regulasi dan birokrasi dalam kegiatan investasi dan ekspor, dinilai sudah cukup membantu. Demikian juga berbagai upaya reformasi lain yang akan memperkuat iklim investasi dan mendorong pertumbuhan.

Prediksi Properti 2016

Sementara isu tentang properti akan menarik dalam seminar outlook ini karena mengundang Conrad D’Shauza member of executive management Housing Development Finance Center (HDFC) dari India. HDFC pada kesempatan itu memberikan sharing experience sebagai lembaga pembiayaan mortgage terbaik di dunia. HDFC berhasil mengelola bisnis dengan sangat efisien. Bank BTN akan menggandeng HDFC sebagai mitra bisnis dalam pengembangan pola pembiayaan di Indonesia bersama Kementrian PU-Pera.

Kondisi pelemahan ekonomi 2015 menyebabkan harga-harga naik khususnya pada barang pokok dan material. Namun hal tersebut ternyata tidak mempengaruhi kinerja sejumlah pengembang nasional untuk membangun proyek properti meskipun terjadi perubahan dengan mulai menyasar pada kelas menengah ke bawah.

Nilai tukar AS yang fluktuatif justru membuat orang ingin menginvestasikannya untuk properti. Alasannya karena properti adalah investasi yang aman di tengah ketidakpastian pasar mengingat harga tanah tidak pernah turun. Dengan melihat pergerakan rupiah terhadap dolar AS yang terus menguat disertai dengan pembangunan infrastruktur yang segera akan menggerakan sektor riil yang akan meningkatkan daya beli, maka tanda-tanda perbaikan hanya menunggu waktu.

Pasar properti dalam kondisi pasar menunggu tidak terlalu lama lagi untuk memasuki percepatan di 2016. Yang terjadi tahun ini dan tahun-tahun sebelumnya, termasuk proyeksi 2016 merupakan bagian dari siklus alami pasar properti, artinya ada masanya pasar lesu, lalu ada saatnya pasar kembali naik.

Seminar BTN Outlook Ekonomi, Perbankan dan Properti 2016 diharapkan akan menjadi solusi dalam pengembangan ekonomi dan bisnis Indonesia. Dengan hadirnya para pakar di bidangnya semoga ini menjadi sumbangan Bank BTN untuk negeri.

“Kami akan terus berupaya semaksimal yang dapat dilakukan untuk bagaimana terus mendapat peran strategis sesuai dengan kompetensi yang dimiliki Bank BTN dalam mendukung program pemerintah guna Indonesia yang lebih baik,” tegas Maryono. (PIT)

REKOR MURI: PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk memecahkan Rekor MURI untuk realisasi KPR terbanyak dalam sehari. BTN telah berhasil mencatat realisasi KPR sebanyak 6.600 dalam sehari yang dilakukan serentak di beberapa cabang BTN di seluruh Indonesia. BTN optimis prospek bisnis pembiayaan perumahan 2016 akan lebih baik dari 2015 dengan kinerja perseroan yg diyakini akan meningkat lebih baik. 39 tahun bisnis KPR yg dijalani BTN telah dinikmati oleh 3.500.000 lebih keluarga Indonesia dgn kredit yg tersalur lbh dari Rp145 triliun. (Foto: Humas Bank BTN).

REKOR MURI: PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk memecahkan Rekor MURI untuk realisasi KPR terbanyak dalam sehari. BTN telah berhasil mencatat realisasi KPR sebanyak 6.600 dalam sehari yang dilakukan serentak di beberapa cabang BTN di seluruh Indonesia. BTN optimis prospek bisnis pembiayaan perumahan 2016 akan lebih baik dari 2015 dengan kinerja perseroan yg diyakini akan meningkat lebih baik. 39 tahun bisnis KPR yg dijalani BTN telah dinikmati oleh 3.500.000 lebih keluarga Indonesia dgn kredit yg tersalur lbh dari Rp145 triliun. (Foto: Humas Bank BTN).

 

MOU BTN-HDFC: PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk memecahkan Rekor MURI untuk realisasi KPR terbanyak dalam sehari. BTN telah berhasil mencatat realisasi KPR sebanyak 6.600 dalam sehari yang dilakukan serentak di beberapa cabang BTN di seluruh Indonesia. BTN optimis prospek bisnis pembiayaan perumahan 2016 akan lebih baik dari 2015 dengan kinerja perseroan yg diyakini akan meningkat lebih baik. 39 tahun bisnis KPR yg dijalani BTN telah dinikmati oleh 3.500.000 lebih keluarga Indonesia dgn kredit yg tersalur lbh dari Rp145 triliun. (Foto: Humas Bank BTN)

MOU BTN-HDFC: PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk memecahkan Rekor MURI untuk realisasi KPR terbanyak dalam sehari. BTN telah berhasil mencatat realisasi KPR sebanyak 6.600 dalam sehari yang dilakukan serentak di beberapa cabang BTN di seluruh Indonesia. BTN optimis prospek bisnis pembiayaan perumahan 2016 akan lebih baik dari 2015 dengan kinerja perseroan yg diyakini akan meningkat lebih baik. 39 tahun bisnis KPR yg dijalani BTN telah dinikmati oleh 3.500.000 lebih keluarga Indonesia dgn kredit yg tersalur lbh dari Rp145 triliun. (Foto: Humas Bank BTN)

 

jktproperty.com