Hingga 2019 Jabodetabek Diguyur 193 Ribu Apartemen

Big Banner

Jakarta – Menurut Chief Executive Officer (CEO) Raja School of Property Andreas P Siregar, di kota-kota besar seperti di Jakarta dan sekitarnya, ada persoalan lahan. Harga tanah yang tinggi dan keterbatasan lahan yang ada, membangun rumah hunian tapak sudah tidak memungkinkan lagi. Hunian vertikal menjadi solusi.

Hal itu tidak semata dialami Jakarta, bahkan kota seperti Bekasi pun mengarah ke hunian vertikal. “Sampai dengan tahun 2019, pasok apartemen di Jabodetabek menjadi sekitar 193 ribu unit,” kata dia kepada Investor Daily, beberapa waktu lalu.

Pelemahan permintaan hunian pada 2015 melambat bila dibandingkan setahun sebelumnya. Andreas mencontohkan kapitalisasi apartemen di kawasan Jabodetabek yang pada 2014 masih sekitar Rp 17 triliun, tahun ini ditaksir maksimal sekitar Rp 15 triliun.

Dia menjelaskan, pada 2015 transaksi jual beli apartemen di bawah harga Rp 600 juta masih tumbuh positif, sedangkan untuk apartemen segmen menengah di rentang harga Rp 600 juta sampai Rp 1 miliar mengalami perlambatan.

“Begitu juga dengan apartemen kelas atas direntang harga Rp 700 juta sampai Rp 2 miliar per unit,” kata dia.
Dia menjelaskan, untuk lokasi yang menjadi incaran masyarakat dalam membeli apartemen sebagai instrumen investasi adalah apartemen yang terletak di sekitar kampus dan rumah sakit. Selain itu, apartemen yang di dekat pusat perdagangan, perkantoran, dan yang berdekatan dengan stasiun kereta.

Investor Daily

Edo Rusyanto/EDO

Investor Daily

beritasatu.com