KPR Indonesia Masih Kalah dengan Negara Lain, Ini Alasannya

Big Banner

Adanya sistem Kredit Pemilikan Rumah (KPR) dinilai sangat membantu masyarakat. Penerapannya berdampak positif untuk mewujudkan cita-cita pembangunan nasional. Kini masyarakat bisa lebih mudah memiliki hunian layak dengan proses yang mudah dengan cara kredit. Sebagian rumah pun ada yang telah disubsidi untuk lebih meringankan beban masyarakat berpenghasilan rendah (MBR).

Namun, belum lama ini Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (Pu-Pera) mengatakan bahwa peranan KPR belum optimal. Ini terlihat dari rasio terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia atau PDB yang baru menyentuh angka 3,5 persen. Sementara negara lain di Asia berada jauh di atas itu.

“Kita masih ketingggalan. Di Singapura rasio KPR terhadap PDB sebesar 53 persen, di Malaysia 33 persen dan di Thailand 19 persen. Sementara itu, di China rasionya sebesar 14 persen dan India 9 persen,” terang Maurin Sitorus, Dirjen Pembiayaan Perumahan Kementerian PU-Pera, seperti yang diterima Rumahku.com.

Rendahnya rasio tersebut dikarenakan banyak faktor, terutama faktor backlog perumahan yang sudah mencapai 13,5 juta. Setiap tahun permintaan rumah mengalami kenaikan sekitar 800-900 ribu unit. Namun, yang baru bisa dipenuhi baru sekitar 400-500 ribu unit.

Alasan lainnya ialah bayang-bayang 3,4 juta rumah tak layak huni di Indonesia. Kawasan kumuh yang ada di perkotaan pun cenderung meningkat setiap tahun. Selain itu, daya beli masyarakat juga masih rendah dan belum memiliki akses untuk mendapatkan KPR.

Dari permasalahan dan data di atas, Maurin menargetkan akan mengoptimalkan program sejuta rumah di tahun 2016. Pihaknya berencana membangun 700 ribu rumah untuk MBR dan 300 ribu untuk non-MBR. Selain itu, pemerintah juga berencana meningkatkan dana untuk subsidi dan bantuan uang muka untuk sistem KPR di 2016.

rumahku.com

Large Rectangle
Large Rectangle

Share

Follow Me