Daftar Hotspot Properti Mewah Dunia, di Manakah Posisi Jakarta? – Property

Big Banner

JAKARTA – Dalam 12 bulan terakhir, tiga kota besar di dunia baru saja mengalami kenaikan harga rumah mewah lebih dari 10 persen. Vancouver, Kanada menjadi kota dengan peningkatan tertinggi per bulan September dengan persentase 20,4 persen.

Sementara itu, Sydney mengalami kenaikan hingga 13,7 persen. Kota terakhir yang meraih pertumbuhan hingga dua digit adalah Shanghai dengan nilai 10,7 persen. Perekonomian yang terbilang kuat dan kurangnya pasokan telah menjadi alasan sejumlah kota ini menjadi yang teratas menurut riset Knight Frank.

Kenaikan harga tertinggi yang terjadi di kota Vancouver disebabkan oleh permintaan lokal dan luar negeri yang menguat sedangkan jumlah rumah berkurang sampai 32 persen dari tahun ke tahun. Pada saat yang sama, ada sejumlah kebijakan perumahan yang ketat bersamaan dengan pemotongan pajak dan suku bunga telah membantu pertumbuhan di Shanghai. Yang mengejutkan, Jakarta menempati posisi keempat dengan peningkatan harga hampir 10 persen.

Sebelumnya, rumah mewah sejak lama telah didominasi oleh kota terkaya di dunia. Di New York, harga perdana rumah mewah mereka meningkat sebanyak 2 persen. Sementara itu, di London hanya 1,2 persen-Paris bahkan mengalami penurunan hingga 2 persen, begitu pula di Zurich menurun sampai dengan 5,1 persen.

Riset menunjukkan bahwa terdapat penurunan yang drastis atas penjualan pasar rumah mewah dari 7 persen menjadi 1,9 persen sejak tahun lalu. Sementara itu, di waktu yang bersamaan, ada penurunan harga jual tahunan dari 91 persen pada dua tahun lalu, menjadi 73 persen tahun ini. Singapura menjadi kota dengan performa penjualan terburuk, dengan penjualan rumah mewah menurun 7,9 persen di bulan September 2015.

Hasil riset Knight Frank September 2014 sampai dengan September 2015

Di sisi lain, negara-negara di Eropa “hanya” mengalami kenaikan 0,8 persen, dan angka ini bervariasi di setiap daerah. Mulai dari peningkatan 9,4 persen di Monaco sampai dengan penurunan hingga 5,1 persen di Zurich. Hasil riset juga menitikberatkan perlambatan ekonomi Tiongkok sebagai salah satu alasan mengapa investor melanjutkan investasi mereka di luar negeri di sektor properti mewah.

Bersamaan dengan kebijakan Pemerintah Amerika Serikat dalam memompa dana segar tambahan melalui pelonggaran kuantitatif. Mereka tetap mengusahakan agar aset utama negara tetap berada di tangan investor dan individu berpenghasilan tinggi. Yang menjadi tanda tanya bukanlah Yunani dan Zona Euro, akan tetapi perlambatan ekonomi Tiongkok. Kekayaan dari Tiongkok akan terus mengalir ke pasar properti di luar negeri dengan tujuan utama seperti Inggris, Amerika Serikat, Kanada dan Australia.

Faktor-faktor ini telah meningkatkan krisis keuangan di tahun mendatang, karena London telah menjadi salah satu negara terkaya dengan aset stasus yang terpercaya. Menurut Jonathan Adams, direktur utama agen real estate Napier Watt, Tidak mengherankan jika harga rumah mewah di London mengalami pertumbuhan yang berbeda dengan negara lainnya. Karena di tengah perlambatan ekonomi dan harga yang melonjak cepat, pemerintah justru memberlakukan kebijakan pajak terbaru sehingga pasar properti London tak lagi menarik bagi investor luar negeri.

(rhs)

property.okezone.com

Large Rectangle
Large Rectangle

Share

Follow Me