Medan dan Eksistensi Balai Kota – Property

Big Banner

JAKARTA – Saking pentingnya sebuah kantor pemerintahan, pembangunan Balai Kota (Medan Town Hall) merupakan bagian awal dalam perencanaan Kota Medan sebagai pemerintahan kota (Gemeente). Itu pula alasan kenapa Balai Kota Medan yang kini menjadi bagian dari sebuah hotel di Jalan Balai Kota, perlu dipertahankan eksistensinya.

Peneliti Pusat Studi Sejarah dan Ilmu-ilmu Sosial (Pussis) Unimed, Erond Damanik mengatakan, penetapan Medan menjadi Gemeente dilakukan pada 5 April 1909. Tapi sebenarnya perencanaan penetapan Medan menjadi Gemeente telah dilakukan sejak 1889 dengan membentuk panitia bernama Negorijraad.

Tugas panitia ini ialah menentukan batas wilayah Afdeeling Deliserdang, maupun batas wilayah Gemeente Medan, merancang anggaran dasar kota, struktur pemerintahan kota, struktur dewan kota (gemeenteraad ), serta sarana dan prasarana pendukung.

“Tiga hal utama yang dikerjakan Negorijraad ini adalah batas-batas dan wilayah pada 1906. Kedua, peta rencana wilayah Gemeente Medan 1906, dan ketiga rencana pembangunan sarana dan prasarana pendukung, seperti Kantor Kota (Balai Kota) Medan atau Raadhuis atau Medan Town Hall. Jadi posisi balai kota, sangatlah penting,” kata Erond.

Sejak penetapannya menjadi kota (Gemeente), maka tugas Negorijraad berakhir dan digantikan oleh Dewan Kota. Dewan inilah pada akhirnya yang memilih wali kota (burgermeister), yakni Baron Daniel Mckay. Sejalan dengan penetapan itu, maka sejak 1906, direncanakan untuk membangun Balai Kota Medan, yang terletak di persimpangan Bentengweg (Jalan Maulana Lubis) dengan Cremerweg (Jalan Balaikota) yang berdampingan dengan Netherlandsche Handel Maatschappij (NHM), yakni lembaga pembiayaan milik Kerajaan Belanda di Medan (sekarang Bank Mandiri).

“Pemilihan lokasi ini didasarkan kepada keberadaan Kampung Medan yang berada di Jalan Sei Deli Medan. Keberadaan kampung ini menjadi acuan bagi Pemerintah Kolonial Belanda untuk merencanakan pembangunan kota,” kata Erond. Dengan tidak mengganggu keberadaan Kampung Medan, maka areal Kesawan saat ini diplot menjadi kediaman Etnis Tionghoa yang bertetangga dengan Etnis India di Kampung Madras.

Hal ini sejalan pula dengan pendirian kantor Deli Maatschappaij di seberang Kampung Medan, yakni di antara pertemuan dua sungai yakni Deli dan Babura. Kantor Balai Kota Medan mulai dibangun pada 1906. Peruntukan bangunan ini ialah sebagai tempat kerja walikota (Burgermeister). Untuk mendukung pembangunan kantor ini, desain arsitektur dengan gaya renaissance yang sangat artistik untuk membuat estetika bangunan yang indah.

Rancang bangunan pertama kali dilakukan Th C Boon, seorang arsitek yang bekerja di Deli Maatschappij (1879-1811). Kemudian, balai kota diperindah kembali oleh arsitek dua bersaudara, yakni Eduard Cyupers dan Petrus Cuypers. Konstruksi bangunan dikerjakan oleh perusahaan konstruksi milik Cupers bersaudara yakni Hullswit and Fermond Weltevreden dari Amsterdam.

Perusahaan ini diketahui juga mendesain dan membangun kantor Nederlandsch Indische Escompto Maatschappij yang berhadapan dengan AVROSS di Jalan Palang Merah Medan. “Yang perlu diketahui juga, pembiayaan bangunan balai kota ini disokong oleh pemerintah kolonial, sumbangan perusahaan perkebunan, juga Tjong A Fie. Ada keterlibatan banyak pihak membangunnya,” bebernya.

Pada 1923 bangunan Balai Kota Medan diperindah kembali oleh perusahaan konstruksi milik Cuypers bersaudara, yakni Hulswitt and Fermont Weltevreden dan juga Ed Cuypers yang telah menggabungkan perusahaannya menjadi Hulswitt en Cuypers Weltevreden. Renovasi pada 1923 ini dengan perbaikan fasilitas interior dan ruang kerja wali kota maupun pengecatan bangunan dengan warna putih sehingga menambah keanggunan bangunan.

“Sepertinya, terdapat aturan bahwa bangunan-bangunan di Medan di era kolonial diwajibkan memiliki cat yang seragam, yakni warna putih. Di samping untuk memperindah bangunan, ini juga menyimbolkan status sosial orang Eropa di Medan sebagai masyarakat kerah putih (white collars),” kata Erond.

(rzk)

1 / 2

property.okezone.com