Pluit City Peduli Kearifan Lokal

WE Online, Jakarta – Tak bisa dinafikan lagi, arus modernisasi atau globalisasi jika tidak dapat dibendung akan mengikis nilai-nilai lokal masyarakat yang ada di suatu daerah. Kencangnya arus modernisasi tersebut tak lepas dari peranan media dan semakin mudahnya masyarakat dalam mengakses informasi melalui jejaring internet. Bahkan, tak jarang kita menyaksikan di setiap sudut kota ataupun desa sudah banyak dijumpai  orang-orang yang memegang gadget.

Secara sederhana dapat dikatakan bahwa modernisasi adalah proses perubahan dari cara-cara tradisional ke cara-cara baru yang lebih maju dalam rangka meningkatkan kualitas hidup masyarakat. Namun, jika hal ini tidak disikapi dengan bijak maka modernisasi bisa menampilkan wajah mengerikan, meskipun juga punya wajah menggiurkan.

Terkait modernisasi, ada yang menarik dan menyita perhatian saya ketika pada hari Minggu (13/12/2015) bermain di Muara Angke, Jakarta Utara. Secara kebetulan pada waktu itu sedang berlangsung acara Nadran atau Sedekah Laut. Sebenarnya, upacara adat Nadran ini lebih identik dengan ritual tahunan yang dilakukan oleh para nelayan di pesisir pantai utara Jawa, seperti Subang, Indramayu, dan Cirebon.

Acara tersebut memiliki tujuan untuk mensyukuri hasil tangkapan ikan serta berharap kepada Sang Maha Kuasa agar ada peningkatan hasil tangkapan pada tahun mendatang dan berdoa agar tidak mendapat hambatan dalam mencari nafkah di laut. Inilah maksud utama dari Upacara Adat Nadran tersebut.

Nurdin, salah satu warga Muara Angke yang saya temui menuturkan bahwa acara nadran tersebut adalah acara rutin tiap tahun sekali dan acara kali ini bisa dibilang cukup meriah jika dibandingkan dengan beberapa tahun yang lalu, tutur pria yang akrab disapa Nur tersebut.

Lebih jauh, Nur menuturkan bahwa selain Nadran juga terdapat rangkaian acara lainnya yang turut serta  memeriahkan seperti pasar malam, debus, pegelaran wayang kulit, hingga penampilan musik dangdut.

Tidak hanya Nur, Sudjiyanto yang juga warga Muara Angke menuturkan hal yang sama. Menurut ia, mayoritas nelayan di Muara Angke adalah warga pendatang dari Indramayu. Jadi, meskipun kami mencari nafkah di Jakarta dengan menjadi nelayan, kami masih tetap memlihara upacara Nadran sebagaimana yang ada di Indramayu.

Selain berbincang-bincang dengan mereka berdua, saya juga menemukan hal yang menarik lainnya di mana setiap perahu nelayan yang ikut merayakan Nadran selain terdapat bendera merah putih juga ada tulisan Pluit City. Sontak saja saya langsung berpikir bahwa berhasilnya acara tersebut juga tak lepas dari kerja sama nelayan Muara Angke dan Pluit City.

Padahal, di benak saya ketika mendengar nama Pluit City yang terlintas adalah sebuah perusahaan yang hanya selalu memikirkan tentang pembangunan perumahan dan berbagai jenis properti lainnya. Namun, kali ini dugaan saya ternyata keliru, bahwa selain menjadi sebagai salah satu pengembang ternama, Pluit City juga peduli terhadap kearifan lokal yang ada di masyarakat sekitar seperti Nadran.    

Apa yang dilakukan oleh Pluit City tersebut, menurut saya, patut untuk dicontoh oleh perusahaan-perusahaan lain, baik yang ada di sekitar Jakarta ataupun yang di luar Jakarta karena dengan peduli terhadap tradisi lokal berarti juga mencintai Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) di tengah-tengah arus globalisasi yang terus mengikis identitas bangsa Indonesia. Selain itu, tradisi juga merupakan warisan leluhur dari nenek moyang kita yang wajib untuk dijaga kalau perlu dilestarikan sampai anak cucu kita.

Penulis: Kristiyono

Penulis/Editor: Cahyo Prayogo

Foto: Cahyo Prayogo

wartaekonomi.co.id