Potensi Hunian Berbasis Islami di Indonesia – Property

Big Banner

JAKARTA – Daya beli masyarakat muslim Indonesia dinilai tinggi yakni Rp11-14 juta atau 35,2 persen dan paling sedikit 1,5 persen berpengeluaran Rp17-20 juta per bulan. Hal tersebut dirilis pusat kajian kelas menengah yang didirikan oleh Majalah SWA dan Inventure “Center for Middle – Class Consumer Studies (CMS)”.

Melihat data tersebut, Direktur Utama PT Bumi Sakinah Propertindo kian yakin bahwa membuat hunian berbasis Islami cukup menjanjikan.

“Kami membuat hunian pertama yang Islami awalnya untuk memenuhi kebutuhan hunian para guru Sekolah Nurul Fikri yang ada di Depok. Dan tidak disangka ternyata antusisme mereka cukup tinggi dan kami sering mendapatkan testimoni yang baik dari mereka” ujar Hadid.

Hadid juga menambahkan saat ini perusahaannya sedang menggarap proyek perumahan Islami kedua yang ada Di kawasan Depok. Hunian Islami ini akan mencakup tiga aspek penting yang mencirikan sisi Islami, antara lain: desain rumah yang sesuai dengan nilai-nilai keislaman, lingkungan yang kondusif bersinergis antara hunian dan pendidikan, dan transaksi pembayaran yang menggunakan KPR bank syariah.

Meski demikian, Hadid juga mengatakan pihak pengembangnya tidak memaksa pembeli untuk bertransaksi menggunakan bank syariah, walaupun pada akhirnya banyak dari pihak pembeli yang membuka rekening di bank syariah.

“Kami pun merasa tambah semangat sebab selain guru-guru Sekolah Nurul Fikri yang antusias, kini orang tua murid pun ikut memesan hunian yang sedang kami bangun, Royal Sakinah. Itu sebabnya, kami masih sangat percaya dengan potensi hunian berbasis Islami mendatang” tambah Hadid.

Dijumpai pada lokasi yang berbeda, Mochamad Gilang Ramadhan, Small & Medium Enterprises Sales manager Rumah.com membenarkan bahwa hunian berbasis Islami memiliki potensi yang menjanjikan, apabila mempertimbangankan beberapa hal dengan matang.

“Setiap perusahaan pengembang harus sudah memikirkan target market berpotensi menjadi pembeli utama. Salain itu, menganalisis lokasi menjadi sangat penting karena setiap lokasi memiliki keunikan dalam mengurusi perizinan membangun hunian, sebab tidak semua wilayah menjalankan regulasi yang tersegmentasi. Dan terakhir diferensiasi hunian yang unik tentu akan menarik pembeli” jelas Gilang.

Gilang juga memaparkan pihak pengembang harus mempertimbangkan karakteristik masyarakat yang tidak semua paham dengan konsep hunian tersegmentasi. Sehingga diperlukan kreativitas promosi agar tidak menimbulkan ekslusifitas.

“Namun, menurut Saya berbagai macam penawaran layanan KPR Syariah kini cukup bisa bersaing dengan KPR konvensional. Ada daya tarik tersendiri di mata publik. Tinggal yang menentukan ada di tangan individu calon pembeli itu sendiri. Ada pihak muslim yang tertarik da nada juga tidak tertarik” papar Gilang.

Berbicara diferensiasi hunian , Gilang juga memberi contoh bagaimana budaya para pembeli hunian saat ini tidak sedikit yang melihat pada sisi keterjangkauan harga, desain yang unik, dan memiliki akses transportasi cepat.

“Karena bagaimanapun harus diperhatikan aspek kehidupan sosial dan perekonomian si calon pembeli ke depan. Untuk itu lagi-lagi strategi penawaranlah yang menjadi kunci kesuksesan” jelas Gilang.

Dengan demikian mengembangkan hunian berbasis Islami bisa menjadi terobosan baru dalam dunia bisnis properti dan banyaknya varian hunian juga bisa memberikan peluang secara leluasa bagi pembeli untuk memilih tipe hunian yang dapat memenuhi kebutuhan mereka.

(rzk)

property.okezone.com

Large Rectangle
Large Rectangle

Share

Follow Me