Properti Apartemen Diprediksi Jadi Pilihan Kalangan Menengah

Big Banner

(Berita Daerah – Nasional) Kalangan menengah, terutama di kota-kota besar, diprediksi akan semakin banyak yang beralih untuk membeli properti apartemen dibandingkan rumah tapak. Daya beli yang tanggung membuat dilema bagi kaum menengah, mengingat mereka belum mampu membeli rumah di perkotaan.

Dengan demikian, alternatif yang dicari warga dari kalangan menengah itu adalah hunian vertikal seperti apartemen. Karena mulai disadari bahwa siap tidak siap bagi kaum urban, hunian vertikal menjadi salah satu alternatif hunian.

Hal tersebut karena kalangan menengah kerap tidak mampu membeli rumah di Jakarta yang harganya terus semakin merangkak naik. Kalaupun ada lokasi rumah yang dimaksud akan sangat jauh untuk kaum komuter yang bekerja di Jakarta.

Hal itu yang kemudian menjadi pertimbangan banyak pengembang untuk membangun apartemen-apartemen murah di simpul-simpul penyangga Jakarta. Dengan harga rumah yang sangat tinggi, membuat celah pasar apartemen menengah akan semakin besar.

Sebagaimana diberitakan, pasokan apartemen diperkirakan semakin “membanjir” di wilayah DKI Jakarta dalam beberapa tahun mendatang dengan semakin banyak menawarkan konsep gabungan antara tempat tinggal dan pusat komersial. Jumlah pasokan apartemen yang sangat besar diperkirakan akan membanjiri pasar apartemen “strata-title” (hak milik) selama tiga tahun mendatang.

Semakin banyak pula apartemen yang dibangun dengan menggunakan konsep “mixed-use” atau mengintegrasikan kawasan residensial dengan komersial.

Contohnya beberapa proyek apartemen yang menerapkan “mixed-use” tersebut antara lain Bassura City (Jakarta Timur), Green Bay Pluit (Jakarta Utara), Green Pramuka dan Holland Village (Jakarta Pusat), serta St Moritz (Jakarta Barat).

Semua apartemen tersebut menawarkan gaya hidup “one-stop living” di mana para pemilik atau penyewa apartemen dapat berbelanja, berbisnis, berolahraga di gym, dan juga dekat dengan tempat tinggal mereka di satu lokasi yang sama.

Dengan demikian, pembangunan apartemen jenis tersebut juga dapat mempromosikan kapasitas yang lebih besar untuk area yang disewakan serta kerap meningkatkan nilai properti di tempat tersebut.

Berdasarkan data Colliers International, terdapat sekitar 2.500 unit kamar apartemen yang diluncurkan di wilayah DKI Jakarta pada periode kuartal III 2013. Dari jumlah tersebut, 37 persen terletak di Jakarta Utara, yang diikuti Jakarta Selatan (29 persen), Jakarta Timur (24 persen) dan Jakarta Pusat (10 persen).

Sementara itu,  pengembang bakal bersaing ketat dalam memperebutkan segmen pelanggan untuk sektor properti 2014 yang diprediksi semakin jenuh terutama setelah kenaikan BI rate.

Meski terjadi perlambatan di sektor properti, tetap akan ada permintaan pasar sehingga harga properti diprediksi juga tidak akan jatuh tetapi hanya mengalami fenomena penundaan permintaan dari pasar.

Pada tahun 2014, secara keseluruhan pasar properti akan melambat karena pasar segmen menengah atas dihadapkan dengan harga yang sudah terlalu tinggi sehingga banyak pengembang yang merasa terlalu tinggi untuk menjual produknya.

Sedangkan di sisi permintaan telah mengalami kejenuhan. Hal ini membuat aksi spekulasi semakin menurun. Para pengembang pun mulai melakukan “resizing” dengan memasuki pasar perumahan di segmen lebih rendah. Harga rumah Rp500 juta sampai 1 miliar akan menjadi primadona di 2014.

Di segmen menengah, permintaan menjadi sedikit tertunda dengan naiknya suku bunga KPR, menyusul naiknya BI Rate di tingkat 7,5 persen yang menyebabkan bank-bank mematok suku bunga KPR diatas 10,5 persen.

Dengan naiknya suku bunga tersebut, diperkirakan permintaan terhadap sektor properti juga diperkirakan akan anjlok sebesar 20-25 persen pada tahun 2014.

(et/EA/BD)

Pic: ant

beritadaerah.co.id