Semarang, Kawah Persaingan Pengembang Properti Pelat Merah

Big Banner

Kota Semarang kini menjadi kawah persaingan para pengembang pelat merah. Sejumlah pengembang BUMN meramaikan persaingan pasar properti dengan menjual berbagai jenis properti. Mulai dari apartemen, hotel, pergudangan, hingga perumahan.

PT PP Properti Tbk, contohnya. Pengembang ini bahkan sampai mengincar pendapatan dari apartemen Amartha View, senilai Rp 550 miliar. Proyek teranyar pengembang BUMN ini dibanderol mulai harga Rp 200 juta hingga Rp 500 juta per unit.

Direktur Operasional PT PP Properti Tbk., Galih Saksono, optimistis produk Amartha View terserap pasar secara maksimal. Ini lantaran pada perkenalan pertama kepada publik awal bulan Oktober lalu sudah terserap 200 unit dari total 789 unit yang ddipasarkan.

“Dari hasil penjualan tersebut, kami optimistis target pendapatan Rp 550 miliar dapat tercapai,” ujar Galih kepada Kompas.com, Senin (2/11/2015). 

Amartha View merupakan proyek apartemen berkonsep resor yang dikembangkan di atas aset lahan PT PP Properti Tbk seluas 8 hektar. Terdiri atas 7 menara apartemen, dan dua menara di antaranya atau 1.589 unit dipasarkan dan dibangun dalam fase pertama.

Digarapnya apartemen untuk kelas menengah-menengah, menurut Galih karena pasar segmen ini yang tengah mendominasi pasar. Tak terkecuali di Semarang. Terlebih kota ini sedang giat membangun dan menjadi incaran pengembang.

Ada fenomena pergeseran perilaku investasi dari orang-orang Semarang. Dari sebelumnya berinvestasi di perbankan dalam bentuk tabungan atau deposito, serta emas, menjadi berinvestasi di sektor properti.

Jika kelak terbangun dan beroperasi, kehadiran Amartha View menggenapi apartemen lainnya yang sudah lebih dulu hadir dan dipasarkan di Semarang. Hingga saat ini setidaknya terdapat 17 proyek apartemen di ibu kota Jawa Tengah ini.

Selanjutnya, PT HK Realtindo. Perusahaan ini sebelumnya telah memulai konstruksi HAKA hotel. Anak usaha PT Hutama Karya Persero ini menginvestasikan dana senilai Rp 40 miliar untuk membangun fasilitas akomodasi berisi 90 kamar tersebut.

Menurut Presiden Direktur PT HK Realtindo, Muhammad Fauzan, aktivitas bisnis dan investasi di ibu kota Jawa Tengah sedang tumbuh. Posisinya yang strategis menjadikan Semarang sebagai hub bisnis bagi kawasan-kawasan sekitarnya.

“Karena itu, kami confidence membangun hotel bisnis dengan konsentrasi utama pada kegiatan meeting, incentives, convention, dan exhibition atau MICE,” ujar Fauzan,Jumat (2/10/2015).

Fauzan menjelaskan, HAKA Hotel ini juga merupakan ekspansi bisnis dan investasi perusahaan di bidang hospitalitas yang berfokus pada pendapatan berkelanjutan (recurring income). Saat ini, kontribusirecurring income terhadap total pendapatan perusahaan masih di bawah 10 persen.

Karena itu, dalam setahun pertama operasinya, diharapkan dapat menambah kontribusi recurring income sebesar Rp 10 miliar hingga Rp 15 miliar.

Dengan kisaran tarif Rp 400.000 per malam saat hari biasa (weekdays) dan Rp 700.000 saat weekend, Fauzan yakin dalam 7 tahun periode pengembalian investasi (payback periode) akan tercapai.

HAKA Hotel yang ditargetkan beroperasi dalam 18 bulan ke depan, akan menggenapi jumlah kamar hotel di Semarang menjadi 4.035 unit.

Sementara PT Adhi Persada Properti (APP) percaya diri mengembangkan Grand Dhika Commercial Estate berupa rumah toko dan pergudangan. 

Fenomena pergeseran investasi ikut memotivasi perseroan menggarap pasar Semarang. Direktur Properti PT Adhi Persada Properti, Pulung Prahasto, mengatakan, sebelum invasi pengembangan apartemen terjadi secara masif dalam tahun-tahun terakhir, pasar Semarang boleh dikatakan statis. 

“Tidak ada dinamika. Kalaupun masuk proyek apartemen baru, penjualannya lama. Bisa setahun sampai dua tahun baru laku. Ini karena karakter orang-orang Semarang sangat banyak perhitungan dan pertimbangan. Mereka safety player, lebih memilih instrumen investasi konvensional seperti deposito, tabungan, dan emas,” jelas Pulung.

Berbeda kondisinya dengan sekarang. Rumah toko dan pergudangan yang dibesut APP, Grand Dhika Commercial Estate, laku terserap pasar kurang dari satu tahun.

“Industri manufaktur, logistik, dan consummer goods serta industri pengolahan makanan membutuhkan gudang penyimpanan. Ini yang kemudian produk kami disambut antusias,” tutur Pulung.
 

Ke depan, APP tengah mempersiapkan pengembangan apartemen khusus untuk mahasiswa di sekitar kampus Universitas Diponegoro. Lokasinya sudah dimiliki sejak lama dan termasuk strategis.

“Realisasi mungkin tahun 2016 mendatang,” ucap Pulung.

Sedangkan PT Wika Realty akan membangun apartemen dengan harga Rp 12 juta per meter persegi di kawasan Tembalang. Untuk apartemen dengan harga sebesar ini, pasar Semarang sangat potensial menyerapnya. 

“Terlebih kota ini termasuk kota besar dan merupakan ibu kota Jawa Tengah. Potensi semakin besar saat Tol Semarang-Solo rampung dikerjakan. Itu akan menstimulasi minat pasar untuk berinvestasi apartemen makin tinggi,” tandas Direktur PT Wika Realty Imam Sudiyono.

solusiproperti.com