Mulai Tahun 2016, Broker Properti Wajib Bersertifikat

Big Banner

Asosiasi Real Estate Broker Indonesia (AREBI) menargetkan Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) Broker Properti bisa beroperasi pada awal 2016. Hal itu dikatakan Ketua Umum AREBI Hartono Sarwono saat Rapat Kerja Nasional (Rakernas) AREBI 2015, Kamis (26/11/2015), di Hotel Novotel, TangCity, Tangerang, Banten.

Rakernas AREBI 2015 yang mengusung tema “Solid, Integritas Profesional” diikuti Dewan Pengurus Pusat (DPP) AREBI 2015 – 2018 dan Dewan Pengurus Daerah (DPD) AREBI dari Jakarta, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, Kepulauan Riau, Sumatera Selatan, dan Sulawesi Selatan.

Pembentukan LSP Broker Properti setelah Kementerian Ketenagakerjaan RI mengeluarkan Keputusan Menteri Ketenagakerjaan No. 343 Tahun 2015 tentang penetapan Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI) kategori real estate golongan pokok real estate bidang perantaraan perdagangan properti.

Diharapkan dengan adanya SKKNI, broker properti memiliki kompetensi kerja. Yakni kemampuan kerja yang mencakup aspek pengetahuan, keterampilan, dan sikap kerja yang sesuai dengan standar yang ditetapkan. Kemampuan kerja tersebut sebagai upaya untuk meningkatkan profesionalitas broker properti.

SKKNI adalah kurikulum uji yang akan menjadi dasar dibuatnya materi uji kompetensi yang nanti dipakai oleh LSP Broker Properti dalam menguji broker properti di Indonesia.

Sedangkan LSP adalah lembaga pelaksana kegiatan sertifikasi profesi yang memperoleh lisensi dari Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP). Lisensi diberikan melalui proses akreditasi oleh BNSP. Lisensi ini menyatakan bahwa LSP telah memenuhi syarat untuk melakukan kegiatan sertifikasi profesi. Sebagai organisasi tingkat nasional yang berkedudukan di wilayah Republik Indonesia, LSP dapat membuka cabang yang berkedudukan di kota lain.

Broker Asing Harus Berbahasa Indonesia

“Nantinya broker properti yang beroperasi di Indonesia, baik perusahaan maupun perorangan, harus memiliki sertifikat/lisensi yang dikeluarkan LSP Broker Properti. Sehingga, ini akan menjadi babak baru bagi bisnis broker properti Indonesia,” kata Hartono.

“Dengan memiliki sertifikat/lisensi, broker properti dianggap sudah berkemampuan menjalankan pekerjaan sebagai broker properti. Di banyak negara, bahkan di negara tetangga Indonesia seperti Malaysia dan Singapura, broker properti harus memiliki sertifikat/lisensi,”kata Hartono menambahkan.

Hartono menambahkan, aturan yang mewajibkan broker properti berlisensi di Indonesia dianggap penting dengan dilaksanakannya Masyarakat Ekonomi Asean (MEA). Dengan diberlakukannya MEA, broker properti asing akan masuk ke Indonesia. Persaingan antarbroker pun akan semakin ketat. Agar broker Indonesia tak kalah saing, maka para broker asing ya harus juga punya sertifikat/lisensi di Indonesia. Untuk itu, broker properti asing salah satunya harus bisa berbahasa Indonesia.

Sedangkan Direktur Eksekutif LSP Broker Properti, Yamanah AC, mengatakan, LSP Broker Properti didirikan oleh Dewan Pimpinan Pusat (DPP) AREBI yang didukung oleh Kementerian Perdagangan. Merupakan amanah Peraturan Menteri Perdagangan Republik Indonesia No. 33/M-DAG/PER/8/2008 tentang Perusahaan Perantara Perdagangan Properti.

“Saat ini LSP Broker Properti telah memiliki 40 tenaga penguji (asesor). Pada bulan Januari 2016 LSP Broker Properti akan membuka sertifikasi angkatan pertama,” kata Yamanah.

Broker properti yang ingin mendapatkan sertifikat/lisensi bisa datang ke Sekretariat LSP Broker Properti di Jalan Jambu No. 2, Menteng, Jakarta Pusat (Tlp: 021-3909913). “Untuk broker di daerah, kalau ada banyak broker yang ingin mendapatkan sertifikat/lisensi kami akan mendatangi, tetapi kalau sendiri, bisa datang ke sekretariat LSP Broker Properti,” kata Yamanah seraya mengatakan sertifikat/lisensi harus diperbaharui tiga tahun sekali.

Broker Wajib Punya SIU-P4

Pemerintah juga telah mewajibkan perusahaan broker properti memiliki Surat Izin Usaha Perusahaan Perantara Perdagangan Properti (SIU-P4). “Pengurusan SIU-P4 saat ini sudah mudah dan cepat setelah dikembalikan kewenangannya ke Kemendag. Oleh karena itu, perusahaan broker properti harus segera mengurus SIU-P4 agar bisa beroperasi secara legal,” ujar Hartono.

Sesuai dengan Peraturan Menteri Perdagangan Republik Indonesia No. 33/M-DAG/PER/8/2008 tentang Perusahaan Perantara Perdagangan Properti, setiap perusahaan broker properti harus memiliki SIU-P4. SIU-P4 ini dikeluarkan oleh Direktur Bina Usaha dan Pendaftaran Perusahaan Kemendag dan setiap lima tahun SIU-P4 harus didaftar ulang.

Dengan telah memegang SIU-P4, setiap perusahaan broker properti wajib menyampaikan laporan kegiatan perusahaan, seperti hasil penjualan tahunan, kepada Direktur Bina Usaha dan Pendaftaran Perusahaan Kemendag, setiap satu tahun sekali.

Untuk mendapatkan SIU-P4, ada beberapa syarat yang harus dipenuhi. Antara lain, memiliki paling sedikit dua orang tenaga ahli sebagai pemimpin perusahaan dan seorang broker properti yang bersertifikat dari AREBI, dan sertifikat kompetensi dari LSP Broker Properti.

Semua bentuk perusahaan bisa mengajukan SIU-P4, baik berbentuk PT, CV, koperasi, firma, ataupun perorangan. Jadi broker tradisonal juga diakomodasi dalam peraturan ini. “Silahkan berkoordinasi dengan sekretariat DPP AREBI jika ingin mengurus SIU-P4,”kata Hartono.

Sektor Properti Bangkit 2016

Sebelum pelaksanaan Rakernas, AREBI yang berdiri sejak 1992 dan tersebar di sembilan DPD AREBI di Indonesia ini menggelar The Biggest Real Estate Summit 2015, Rabu (25/11/2015). Kegiatan yang dihadiri sekitar 700 anggota AREBI tersebut merupakan kegiatan untuk menjalin networking dan meningkatkan profesionalitas anggota AREBI. Dengan kegiatan ini, anggota AREBI bisa menambah pengetahuan dan kemampuannya yang akan berguna saat bekerja.

Tema yang dibahas dalam The Biggest Real Estate Summit 2015 adalah “The Future of Property, Challenges and Opportunities”. Tampil sebagai pembicara antara lain Djoko Slamet Utomo (Wakil Ketua Umum DPP REI), Tai Horikawa (Director PT Tokyu Land Indonesia), David Sumual (Chief Economist PT Bank Central Asia Tbk.) Robert Yapari (CEO PT Pancakarya Griyatama), Ishak Chandra (Managing Director Corporate Strategy & Services Sinar Mas Land), Ivy Wong (Director PT Pakuwon Jati Tbk.), Hendry Tamzel (Associate Director Ciputra Group), dan Panangian Simanungkalit (Direktur Eksekutif Pusat Studi Properti Indonesia/PSPI).

Para pembicara optimistis ke depan pasar properti akan terus membaik seiring dengan upaya pemerintah untuk memperbaiki kondisi ekonomi Indonesia. Selain itu, juga karena kebutuhan properti, khususnya hunian, sangat besar di mana masyarakat Indonesia saat ini masih banyak yang belum memiliki rumah.

Djoko Slamet Utomo, Wakil Ketua DPP REI mengatakan, industri properti diprediksi membaik pada 2016, seiring dengan pemulihan ekonomi nasional. Penjualan properti diperkirakan akan meningkat. Permintaan properti untuk segmen menengah atas maupun menengah bawah diprediksi akan tumbuh. Dan dampak dari deregulasi sejumlah kebijakan yang terkait dengan industri properti baru akan terasa pada 2016.

Panangian Simanungkalit menyatakan, kecemasan bahaya bubble property di Indonesia kurang beralasan. Sebab, porsi kredit properti di perbankan Indonesia saat ini kecil. “Jadi, kini sektor properti kita aman, tidak seperti menjelang crash tahun 1998-an. Sektor properti kita mulai bangkit di tahun 2016, dan booming di tahun 2018. Maka, buat investor, saatnya membeli sekarang untuk menjualnya di 2018,” kata Panangian.

Dalam acara The Biggest Real Estate Summit 2015 juga dibuat sesi motivasi yang diisi oleh Tanadi Santoso. Dia adalah seorang Business Motivational Speaker yang membahas strategi pada masa sulit. “Diharapkan anggota AREBI setelah mengikuti The Biggest Real Estate Summit 2015 ini bisa mempersiapkan strategi untuk menghadapi tantangan dan meraih peluang bisnis properti di masa datang. Sehingga, anggota AREBI bisnisnya bisa bertahan dan terus bertumbuh,” kata Hartono.

rumah123.com