Gyproc Ekspansi Pasar Plasterboard di Indonesia

Big Banner

Bisnis.com, JAKARTA—PT Saint Gobain Construction Products Indonesia (SGCPI), perusahaan material konstruksi papan gypsum Gyproc asal Prancis, akan memperluas pasar plasterboard di Indonesia. Edukasi mengenai manfaat produk gypsum untuk dinding yang belum lazim digunakan di Indonesia menjadi tantangan utama.

Managing Director SGCPI Hantarman Budiono mengungkapkan saat ini Gyproc memiliki satu pabrik dengan kapasitas produksi maksimal  30 juta ton gypsum di Cikande, Jawa Barat. Pabrik yang didirikan dengan nilai investasi US$ 50 juta pada 2014 ini baru memproduksi sekitar 30% gypsum dari total kapasitas pabrik, atau sekitar 9 juta ton per tahun.

“Dari Cikande ini kita sudah suplai se-Indonesia bahkan sudah mulai buka keran ekspor, untuk bantu Asia Tenggara. Kapasitas kita nomor dua terbesar setelah Thailand, untuk Asia Tenggara,” ujarnya ketika melakukan kunjungan ke kantor redaksi Harian Bisnis Indonesia, Selasa (2/02/2016).

Dia memaparkan ekspansi Saint Gobain Group ke Indonesia sebetulnya telah dimulai sejak 2007, mulanya terbatas pada distribusi produk gypsum yang disuplai dari pabrik di Asia Tenggara. Sebelum memasuki pasar tanah air, perusahaan yang telah berusia 350 tahun ini telah memiliki pabrik yang tersebar di China, Thailand, Vietnam, dan Malaysia.

Hantarman optimistis bila ekspansinya berjalan sesuai rencana, maka perusahaan akan mendirikan satu pabrik gypsum lagi di Indonesia. Sejauh ini pihaknya tengah mempertimbangkan lokasi di Surabaya, Jawa Timur untuk melengkapi pabrik di Cikande, dengan kapasitas yang sama mencapai 30 juta ton per tahun.

“Kapasitas kita di Cikande belum full capacity, dalam tiga sampai empat tahun kami harapkan sudah bisa full capacity. Kalau mengikuti pola di Thailand, kemungkinan dalam lima tahun lagi kita akan buka satu pabrik lagi,” ujarnya.

Marketing Executive SGCPI Rini Dewi Anggraeni mengungkapkan pihaknya menjual dua jenis produk gypsum, yakni plafon atap (ceiling) dan dinding  (dry wall system). Namun, pangsa pasar produknya di tanah air masih dikuasai produk plafon sebesar 95%.

“Sekarang ini dry wall system masih belum lazim di sini, padahal sifatnya lebih fleksibel dibanding dinding bata konvensional, dan juga bisa menghemat biaya pembangunan hingga 28%,” ujarnya.

Menurutnya, teknologi dry wall ini telah lebih dulu dikenal di negara maju yang mengedepankan penggunaan material konstruksi yang efisien dan ramah lingkungan. Sejumlah proyek apartemen, hotel, dan restoran di Singapura telah lazim menggunakan ini.

Adapun di Indonesia, dry wall belum banyak digunakan karena kurangnya sosialisasi dan edukasi di masyarakat. Meski demikian, pengembang properti Apartemen Taman Anggrek yang menggunakan jasa arsitek asal Singapura telah menggunakan teknologi ini.

Di sisi lain, pihaknya optimistis dapat terus memperluas pasar dry wall secara bertahap, mengingat terdapat backlog yang cukup besar antara kemampuan masyarakat membeli rumah dan kecepatan pengembang dalam membangun perumahan.

Selain itu, dia menilai pertumbuhan ekonomi yang baik juga turut mendukung pengembangan usahanya. “Momentum sudah diciptakan oleh pemerintah, mengguyurkan proyek-proyek infrastruktur. Itu bisa jadi motor untuk kami,” ujarnya.

Saat ini, Gyproc melakukan pemasaran melalui distributor dan agen-agen pemasaran yang tersebar di  seluruh Indonesia. Pihaknya juga masih membuka kemungkinan kerja sama dengan sejumlah pengembang properti guna meningkatkan penjualan. ()

properti.bisnis.com