Tiongkok Bangun Kereta Cepat Sampai Teheran

Big Banner

Housing-Estate.com, Jakarta – Selain soal perijinan dan studi amdal, diputuskannya perusahaan kereta Tiongkok sebagai investor kereta cepat Jakarta-Bandung, berbuah suara kontra di publik. Tapi Presiden Joko Widodo bergeming dan prosesi pemancangan tiang pertama pembangunan sudah dilaksanakan pada 21 Januari 2016. Salah satu bunyi suara negatif itu menyangsikan  kemampuan Tiongkok  membangun dengan kualitas baik.

online-Iran-China-map-high-speed-rail

Menurut CNBC, sejak mengembangkan sistem ini 12 tahun lalu di Tiongkok sudah dibangun kereta cepat lebih dari 16.000 km. Jalur kereta cepat ini sudah sampai ke Urumqi, Propinsi Xinjiang di ujung barat Tiongkok (rute dari Lanzhou, 11,5 jam) dan Harbin di ujung Timur (rute dari/Beijing, 7 jam).

Tak mau disebut jago kandang, Tiongkok juga akan membangun infrastruktur tersebut di negara-negara  sekitarnya, melalui kebijakan “One Belt, One Road”. Kebijakan Presiden Xi Jinping yang sudah dicanangkan sejak Oktober 2013 ini adalah strategi pemerintah Tiongkok untuk mengembangkan dan menghubungkan wilayah-wilayah strategis di seluruh dunia. Yang dimaksud dengan “belt” adalah area di seluruh wilayah Eurasia, sementara  “road” mengacu pada rute laut dari pantai-pantai Tiongkok hingga Afrika dan Mediterania, melalui Asia Tenggara dan Terusan Suez.  Pendeknya Tiongkok ingin membangkitkan kembali “kejayaan” Jalan Sutera pada masa Marco Polo.

“One Belt, One Road” ini akan meliputi 65 negara di tiga benua, termasuk Kazakhstan, Uzbekistan, Russia, Thailand, Malaysia dan Indonesia. Untuk mewujudkan cita-citanya, tidak tanggung-tangung Xi menyiapkan dana sebanyak 40 miliar dolar AS. Asian Infrastructure Investment Bank yang baru terbentuk juga siap mendukung.

Setelah Indonesia, negeri yang siap dibuatkan kereta cepat itu adalah Iran. Kereta itu akan menghubungkan Teheran dengan  Mashhad, kota kedua terbesar di Iran, sejauh 900 km. Belum banyak informasi tentang jalur kereta tersebut, tetapi yang pasti jalur kereta ini kelak akan memanjang hingga Urumqi. Rel kereta cepat sejauh 3.200 km ini akan melintasi  empat negara, yaitu Kazakhstan (Almaty), Kyrgyzstan (Bishkek), Uzbekistan (Tashkent dan Samarkand) lalu Turkmenistan (Ashgabat).

Di Iran sendiri, dalam sebuah laporan disebutkan bahwa  berdasarkan kesepakatan tahun 2011, Tiongkok juga siap membangun delapan jalur kereta baru, dengan total panjang lebih dari 5.000 km. Sebagian dari proyek ini adalah jalur antara Arak-Malater-Khosravi  (566 km) di wilayah sebelah barat. Jalur ini  akan menjadi bagian jalur kereta Iran, Iraq dan Syria, sekaligus membuka jalur ke Laut Mediterania.  Tiongkok juga akan membangun jaringan kereta cepat—kecepatan rata-rata 300 km/jam–yang menghubungkan Teheran, Qom dan Isfahan.

Juga Bangun di AS

Selain di Iran, Tiongkok juga memenangi kontrak pembangunan kereta cepat di Turki dan yang terbaru adalah di AS, menghubungkan Las Vegas – Los Angeles. Terpilihnya Tiongkok membangun kereta cepat di AS cukup mencengangkan, sebab selama ini pemerintah AS mengemohi pembangunan infrastruktur berteknologi tinggi dari negara berkembang. Menurut laporan Bank Dunia, salah satu keunggulan Tiongkok adalah kemampuannya membangun sistem yang sama dengan biaya hanya sepertiga dari yang ditawarkan negara lain.

Tiongkok saat ini diketahui sedang bernegosiasi dengan 30 negara untuk pembangunan kereta cepat ini dengan total investasi hingga 470 miliar dolar AS. Jika kontrak itu didapat, tidak bisa dipungkiri lagi kalau Tiongkok akan jadi negara pembangun kereta cepat terpanjang di dunia.

(Berbagai sumber)

housing-estate.com