Kinerja Memuaskan, BTN Makin Concern pada Sektor Perumahan

Big Banner

JAKARTA, jktproperty.com – Selama 2015 jumlah rumah bersubsidi yang dibiayai melalui KPR Bank BTN dalam program pembangunan sejuta rumah mencapai 474.099 unit. Jumlah ini semakin menguatkan posisi Bank BTN sebagai bank yang concern terhadap sektor perumahan.

“Kontribusi sebesar itu semakin mengukuhkan Bank BTN sebagai motor penggerak program sejuta rumah di Indonesia,” ujar Dirut Bank BTN Maryono saat paparan kinerja Bank BTN Tahun 2015 di Jakarta, Kamis (4/2).

Maryono mengatakan dengan kucuran kredit KPR sebanyak itu, membuktikan bahwa Bank BTN tetap konsisten terhadap core business dalam bidang pembiayaan perumahan. Porsi pembiayaan pada kredit perumahan masih mendominasi dengan komposisi 89,90% atau Rp124,92 triliun dari total kredit yang disalurkan selama 2015 sebesar Rp138,95 triliun.

Sisanya yang 10,10% atau Rp14,029 triliun disalurkan untuk pembiayaan kredit non perumahan. Untuk segmen KPR subsidi, Maryono mengungkapkan Bank BTN sangat dominan dengan menguasai pangsa pasar 98% dari total penyaluran fasilitas liquiditas penyediaan perumahan (FLPP). “Total KPR yang sudah disalurkan hampir mencapai Rp170 triliun dan telah dimanfaatkan oleh hampir 4 juta masyarakat Indonesia,” jelasnya.

Khusus untuk program FLPP, telah direalisasikan rumah mencapai 442.691 unit dengan total kredit mencapai lebih dari Rp34 triliun. “Tahun 2015, khusus FLPP terealisasi 125.337 unit dengan jumlah kredit hampir mencapai Rp13 triliun,” jelasnya.

Kinerja Memuaskan

Pada kesempatan itu Maryono juga mengatakan Bank BTN berhasil mencatatkan kinerja yang sangat memuaskan di tahun 2015. Di tengah kondisi perkenomian nasional yang melambat, Bank BTN justru menunjukan pertumbuhan yang sangat kuat. Kredit dan Dana Pihak Ketiga tumbuh melampaui angka industri.

Sementara rata-rata perbankan mengalami penurunan pendapatan, laba bersih BTN meningkat dengan sangat signifikan. Begitu juga dengan kualitas kredit. Di tengah NPL perbankan yang memburuk akibat perlambatan ekonomi dan peningkatan risiko nilai tukar, NPL Bank BTN mengalami perbaikan yang signifikan.

“Perseroan pada akhir tahun 2015 telah menyelesaikan hampir seluruh target yang ditetapkan terpenuhi dengan baik. Seluruh kinerja bisnis termasuk rasio keuangan secara umum memenuhi target akhir tahun. Ini menunjukkan hasil transformasi yang telah dilakukan Perseroan secara umum telah berjalan efektif. Kami mengucapkan terima kasih atas seluruh dukungan pegawai, masyarakat dan stakeholder atas pencapaian ini,” katanya.

Atas kinerja ini yang membanggakan ini, Bank BTN berhasil menerima berbagai penghargaan dan pengakuan dari lembaga independen dalam atau luar negeri sepanjang tahun 2015. Beberapa penghargaan yang diterima Bank BTN antara lain dari League of American Communication Professionals (LACP) untuk skala internasional dan Asean Corporate Governance Award 2015 untuk regional. Sementara penghargaan bergengsi nasional yang diterima Bank BTN adalah Annual Report Award 2014, Anugerah Perbankan Indonesia 2015 serta Tokoh Perbankan 2015 untuk Direktur Utama Bank BTN.

Di samping itu perbaikan kinerja dan operasional perseroan selama 2015 juga telah meningkatkan nilai korporasi berdasarkan KPKU (kriteria penilaian kinerja unggul) yang ditetapkan Kementrian BUMN dari Early Result pada tahun 2014 menjadi good performance pada tahun 2015. OJK juga telah memberikan penilaian kepada BTN tentang kesehatan bank dan GCG. Untuk kesehatan bank OJK memberikan penilaian Komposit 2, sementara untuk GCG nilai BTN juga berada pada Komposit 2.

Transformasi BTN

Sejak tahun 2013, Manajemen Bank BTN telah mencanangkan road map transformasi, yang bertujuan untuk terus meningkatkan dominasi Bank BTN di bidang pembiayaan perumahan dan menjadikan Bank BTN sebagai bank terdepan dengan layanan kualitas dunia. Tahun 2015 adalah tahun pertama BTN memasuki transformasi tahap 2, yaitu periode digital banking.

Dalam periode Digital Banking ini, Bank BTN telah mengembangkan berbagai produk dan layanan yang berbasis digital, seperti mobile BTN, internet banking dan cash management. Selain itu, pengembangan digital banking juga dimaksudkan untuk terus meningkatkan kecepatan layanan serta volume bisnis Bank BTN.

Beberapa inisiatif besar telah dilakukan Bank BTN pada tahap 2 tranformasi ini. Yang pertama tentulah Bank BTN sebagai motor penggerak program sejuta rumah di Indonesia. “Lompatan bisnis perseroan pendukung besarnya berasal dari konsistensi Bank BTN dalam menjalankan program ini.”

Dengan program 5 SIAP (pendanaan, tehnologi informasi, SDM, proses bisnis, supply rumah) Bank BTN berhasil mengawal program ini dengan baik. Perseroan akan tetap menjalankan program ini pada tahun 2016 dengan potensi lebih basar. Pasar di seluruh wilayah Indonesia telah terbuka dengan apa yang sudah dijalankan pada 2015. Pada tahun 2015, Bank BTN telah mengkontribusi sebanyak 474.099 unit dalam program satu juta rumah ini, baik dari sisi demand (KPR) maupun sisi supply (kredit konstruksi).

Maryono menambahkan inisiatif strategik kedua pada tahun 2015 ini adalah keberhasilan Bank BTN dalam melakukan perbaikan pada seluruh lini proses bisnis kredit, dengan tujuan untuk meningkatkan kualitas kredit dan menerapkan prinsip GCG secara konsisten.

“Kami telah memperbaiki proses bisnis perseroan dari lini depan (front end) melalui penerapan pendekatan four-eyes principles dan peningkatan kompetensi analis, lini tengah (middle end) melalui monitoring yang ketat atas usaha dan agunan debitur, sampai ke lini belakang (back end) melalui perbaikan organisasi penagihan (collection). Semua proses dikelola dengan baik dan secara professional sehingga membawa hasil lebih baik,” kata Maryono.

Inisiatif berikutnya adalah mendukung program pemerintah menyasar masyarakat di pinggir kota yang hampir tidak tersentuh oleh layanan perbankan. Perseroan serius melakukan pembenahan sistem digital banking untuk mendukung kegiatan branchless banking sebagai pendukung program laku pandai yang ditetapkan oleh pemerintah sebagai financial inclusion.

Lompatan Kinerja

Bank BTN membukukan laba bersih per 31 Desember 2015 sebesar Rp1,851 triliun. Laba perseroan ini tumbuh 62% dibanding perolehan laba periode yang sama tahun 2014 sebesar Rp1,146 triliun. Sementara itu berdasarkan laporan keuangan yang telah diaudit tersebut perseroan berhasil menurunkan NPL menjadi 3,42% (gross) turun dari NPL periode yang sama sebesar 4,01%. Kami berhasil menekan NPL dibawah 4% sesuai dengan target akhir tahun 2015, melalui perbaikan-perbaikan manajemen penagihan.

Bank BTN mencatat kinerja kredit dan pembiayaan mencapai sebesar Rp139 triliun atau tumbuh 19,88% dari kredit periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp115,916 triliun. Pertumbuhan kredit Bank BTN ini berada di atas rata-rata industri nasional yang berada hanya pada kisaran 9,85%. Perseroan berhasil meningkatkan fungsi intermediasi di tengah dinamika perlambatan ekonomi global maupun nasional.

Sejalan dengan pertumbuhan dan peningkatan kualitas kredit, peningkatan bisnis perseroan juga dapat dilihat dari meningkatnya Dana Pihak Ketiga (DPK) perseroan yang mencapai Rp128 triliun pada 2015, tumbuh 19,97% dari periode sebelumnya sebesar Rp106,5 triliun. Perolehan dana pihak ketiga perseroan ini juga berada diatas rata-rata industri nasional yang berada hanya pada kisaran 7,70%.

Sementara total aset perseroan tumbuh sebesar 18,83% dari Rp144,6 triliun pada tahun sebelumnya menjadi Rp172 triliun pada akhir 2015. Pertumbuhan aset ini juga berada di atas rata-rata industri nasional yang berada hanya pada kisaran 9,29%. Dengan perolehan aset ini membuat Bank BTN naik ke peringkat tujuh di antara 10 besar bank nasional berdasarkan besaran aset.

“Ini merupakan prestasi bagi manajemen Bank BTN sebagai bank yang fokus ke segmen kredit pembiayaan perumahan,” tegas Maryono.

Rasio keuangan juga menunjukan perbaikan. Profitabilitas mengalami perbaikan cukup tinggi. NIM sebesar 4,87%, meningkat dari 4,47%. ROE dan ROA masing-masing sebesar 16,84% dan 1,61%, meningkat dari posisi 31Desember 2014 yang masing-masing sebesar 10,92% dan 1,14%. Walaupun mengalami perbaikan pada kualitas kredit, Bank BTN tetap mencatatkan beban CKPN yang cukup tinggi sebagai bagian dari inisiatif untuk penerapan risk management dan prudential banking, sehingga coverage ratio meningkat 25% pada tahun 2015, dibandingkan tahun 2014.

Recovery Asset

Perbaikan kualitas kredit Bank BTN dengan membaiknya NPL sepanjang tiga tahun terakhir dipicu oleh kenaikan recovery asset perseroan. Tahun 2015 Bank BTN berhasil membukukan recovery asset hampir mencapai Rp.2 Triliun. Perseroan telah melakukan berbagai upaya strategis dalam memperbaiki kualitas kredit. Kami telah secara serius dan optimal untuk melakukan kegiatan penagihan, restrukturisasi kredit, penjualan rumah agunan dan perbaikan proses kredit.

Dengan upaya strategis yang kami lakukan tahun 2015, kami berhasil menekan angka NPL dibawah 4% pada akhir tahun 2015, dimana dalam tiga tahun sebelumnya NPL perseroan berada di atas 4%, tambah Maryono menjelaskan.

Bank BTN tetap konsisten terhadap core business-nya dalam bidang pembiayaan perumahan. Kinerja Perseroan tahun 2015 masih menunjukkan konsistensi Bank BTN pada bisnis utamanya tersebut. Ini dapat dilihat dari porsi pembiayaan pada kredit perumahan masih mendominasi dengan komposisi 89,90% atau sebesar Rp124,927 triliun dari total kredit yang disalurkan Perseroan selama tahun 2015 sebesar Rp138,956 triliun. Sementara sisanya yang sebesar 10,10% atau sebesar Rp14,029 triliun disalurkan untuk pembiayaan kredit non perumahan. (PIT)

jktproperty.com

Large Rectangle
Large Rectangle

Share

Follow Me