Kebutuhan Apartemen di Tangerang Masih Tinggi

Big Banner

JAKARTA, KOMPAS.com – Permintaan apartemen di kawasan Tangerang, Banten, untuk tahun ini dinilai masih cukup tinggi. Hal itu bisa dilihat dari terus dibangunnya proyek-proyek apartemen yang mencapai sekitar 30 lebih proyek di kawasan tersebut.

Sebagai bagian dari kawasan Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek), saat ini Tangerang berpenduduk 25 juta jiwa. Wilayahnya meliputi Tangerang Selatan, Tangerang Kota, dan Kabupaten Kota yang masuk dalam Provinsi Banten.

Di ketiga kota/kabupaten tersebut tercatat ada 31 proyek hunian vertikal dengan kapasitas 54.988 unit apartemen. Data Cushman & Wakefield Indonesia memperlihatkan bahwa jumlah pasokan baru yang berlangsung hingga dua tiga tahun mendatang itu, jauh lebih besar dari apartemen yang kini ada. Di Tangerang, saat ini terdapat 12.686 unit apartemen.

“Karena lahannya semakin terbatas lahan, dan harga lahannya juga semakin tinggi. Perlahan kawasan Bodetabek mulai berubah konsep huniannya dari landed ke high rise atau vertikal,” kata Ketua Real Estat Indonesia (REI) DKI Jakarta, Amran Nukman, Kamis (4/2/2016).

Bagi Amran, dalam menopang proyek hunian vertikal di kawasan Bodetabek, termasuk Serpong, Tangerang, dukungan infrastruktur transportasi amat mutlak. Hal itu mengingat letaknya di daerah penyangga, sedangkan aktifitas penghuninya masih di Jakarta. Untuk itu, dukungan infrastruktur transportasi masal merupakan suatu keharusan.

“Jika tidak, maka masyarakat hanya akan merasakan pembelian huniannya yang murah, tapi tetap mahal di ongkos transportasi,” ujarnya.

Hal itu diperkuat pendapat Tjakra Donja Puteh, Manager Proyek Grand Kamala Lagoon. Menurut dia, hunian vertikal masih prospektif karena kebutuhan hunian masih tinggi, termasuk di Jabodetabek.

Khusus untuk Serpong, lanjut dia, pasar membutuhkan edukasi terkait produk apartemen premium. Edukasi kepada pasar diberikan terkait kualitas produk yang disesuaikan dengan kebutuhan konsumen, tapi harganya relatif terjangkau.

“Jakarta semakin padat dan lahan yang tersedia untuk pengembangan semakin sedikit. Hanya ada satu cara untuk memperluas kota ini, yaitu keluar menuju ke kota-kota satelit,” timpal Bill Cheng, Presiden Direktur PT Brewin Mesa Developer, pengembang properti yang berbasis di Singapura.

Bill menambahkan, kota-kota satelit Jakarta posisinya amat penting dalam menopang pertumbuhan kehidupan perkotaan di Indonesia. Dia mengatakan, kota-kota satelit seperti Lippo Karawaci, BSD dan Alam Sutera sangat menarik.

“Tidak hanya karena biaya yang lebih rendah dibandingkan dengan proyek di Jakarta, tetapi juga integrasi yang ditawarkannya,” ujarnya.

Menurut dia, sekolah, mal dan fasilitas lainnya dekat dengan komplek perumahaan yang aman. Di saat yang sama, kota-kota itu punya aksesibilitas yang baik ke Jakarta melalui jalan tol yang ada untuk memudahkan perjalanan.

“Kota-kota satelit itu akan terus menjadi pilihan yang menarik untuk pasar segmen menengah ke atas,” tuturnya.

Kue terbesar

Director Research & Advisory Cushman & Wakefield, Arief Rahardjo, mengatakan pasar hunian vertikal strata-title apartment di Jadebotak masih didominasi oleh investor, bukan end-user. Walaupun memang benar di daerah yang sudah sangat komersial dan harga lahan atau rumahnya sudah tidak terjangkau oleh masyarakat umum, strata apartment memang jadi pilihan untuk hunian.

“Dilihat dari segi permintaan dan pasokan, kue terbesar pasar apartmen ini masih di harga Rp15-20 juta per meter persegi,” katanya.

Dia menambahkan, berkaitan dengan semakin baiknya jaringan tol, kereta rel listrik (KRL), trans jakarta, dan MRT pada masa mendatang akan sangat mendukung penyebaran lokasi hunian vertikal di Jadebotabek.

Sementara itu, terkait Serpong dan Bekasi, kedua daerah tersebut berkembang karena perkembangan jaringan tol dan KRL. Apalagi Bekasi, nantinya akan diperkuat dengan hadirnya kereta ringan.

properti.kompas.com