“Next Tokyo”, Ambisi Jepang yang Dilengkapi Apartemen 1,7 Kilometer

Big Banner

KOMPAS.com – Pemerintah Jepang secara resmi meluncurkan prakarsa yang disebut sebagai “Next Tokyo” untuk menciptakan bentuk masa depan mega-city guna beradaptasi dengan perubahan iklim pada 2045.

Prakarsa itu didasari laporan Organisasi Kesehatan Dunia atau World Health Organization (WHO) pada 2014 yang menyebutkan kota-kota besar menyumbang 54 persen total populasi global.

Angka tersebut naik 34 persen dari tahun 1960 dan diperkirakan akan terus meningkat seiring dengan berjalannya waktu.

Tren ini ditambah dengan naiknya level air laut ke permukaan akibat pemanasan global yang dapat membuat beberapa kota besar di dunia rentan terhadap kasus over populasi dan banjir besar, serta kekhawatiran akan bencana alam lainnya.

Karena itu, Kohn Pedersen Fox Associates dan Leslie E. Robertson Associates bekerja sama membuat proposal yang berisi visi mereka untuk kota baru di Teluk Tokyo.

Desain mereka menggabungkan berbagai elemen yang mampu meningkatkan kesiapan teluk untuk menanggulangi bencana alam seperti gempa bumi dan angin topan.

Menara super-jangkung

Pengembangan air melalui struktur heksagonal dengan lebar 150 meter hingga 1500 meter dibuat dalam lapisan untuk meminimalisasi efek ombak dari teluk. Struktur itu juga nantinya berfungsi memudahkan akses kapal untuk keluar masuk pelabuhan.

Bukan itu saja, beberapa struktur lain juga akan diisi dengan air sehingga memungkinkan adanya akses ke pulau yang memiliki pelabuhan pantai dan plot pertanian perkotaan.

Air laut dari teluk akan dipertahankan untuk budidaya ganggang laut yang merupakan sumber bahan bakar bersih dan terbarukan.

Salah satu komponen perencanaan pembangunan yang paling menyita perhatian adalah adanya pencakar langit super jangkung yang diberi nama Sky Mile Tower.

Sky Mile Tower rencananya dibangun setinggi 1,7 kilometer atau dua kali dari gedung tertinggi di dunia saat ini, Burj Khalifa.

Sebagai menara residensial, Sky Mile Tower akan menjadi tempat tinggal bagi 55.000 penduduk atau setara keseluruhan populasi daerah White Plains di New York, Amerika Serikat.

Lobi-lobi bertingkat dengan berbagai macam fasilitas seperti pusat perbelanjaan, restoran, hotel, pusat kebugaran, perpustakaan, dan klinik kesehatan juga akan menjadi bagian dari gedung mega tinggi tersebut.

Desain heksagonal gedung dipilih setelah serangkaian tes yang menunjukkan bahwa itu bersifat aerodinamik dan paling tahan angin.

Salah satu masalah bagi para arsitek dalam merealisasikan “Next Tokyo” ini adalah bagaimana caranya memompa dan mendistribusikan air ke orang-orang yang tinggal di ketinggian gedung.

Mereka mengatasi masalah itu dengan merancang fasad yang mampu mengumpulkan, merawat, dan menyimpan air di berbagai tingkat di menara. Sementara untuk distribusinya, mereka menggunakan sistem gravitasi.

Perwakilan dari “Next Tokyo” yakin jika nilai properti tepi laut baru di Teluk Tokyo ini bisa membantu biaya pembangunan proyek, sembari menunggu dana proposal mengucur.

properti.kompas.com