LRT Katrol Harga Lahan Hingga 200 Persen

Big Banner

JAKARTA, KOMPAS.com – Tak dapat disangkal, pengembangan infrastruktur mampu mendongkrak bisnis properti di sekitarnya. Termasuk pembangunan kereta api ringan atau light rail transit (LRT).

Jalur LRT dirancang sepanjang 83,6 kilometer dan dibangun dalam dua tahap. Masing-masing terdiri dari tiga lintas pelayanan, yakni tahap 1 meliputi lintas layanan Cibubur-Cawang, Bekasi Timur-Cawang, Cawang-Dukuh Atas dengan 21 stasiun dan panjang 42,1 kilometer.

Tahap dua lintas pelayanan Cibubur-Bogor, Dukuh Atas-Palmerah-Senayan, dan Palmerah-Grogol dengan panjang 41,5 kilometer. Rencananya akan dibangun dua tahap yang terdiri dari tiga lintas pelayanan.

Tahap 1 meliputi lintas layanan Cibubur-Cawang, Bekasi Timur-Cawang, Cawang-Dukuh Atas dengan 21 stasiun dan panjang 42,1 kilometer.

Tahap dua lintas pelayanan Cibubur-Bogor, Dukuh Atas-Palmerah-Senayan, dan Palmerah-Grogol dengan panjang 41,5 kilometer. Rencananya, akan ada 10 stasiun pada tahap dua.

Dampaknya, lahan dan properti beberapa wilayah yang akan menjadi titik-titik pertemuan atau stasiun LRT diprediksi bakal mengalami kenaikan harga signifikan.

Namun, itu sangat tergantung pada ketersediaan atau pasokan lahan kosong yang ada. Bila lahan kosong di sekitar titik pertemuan LRT tersebut tidak terlalu luas, kenaikan harganya paling banter 20 persen.

Sebaliknya, jika pasokan lahan kosong masih sangat luas, bukan tidak mungkin lonjakan harga akan menembus 200 persen.

“Kenaikannya sulit diprediksi ya, kalau memang lahan yang tersisa sedikit paling bisa naik 20 persen. Tapi kalau ketersediaan lahannya banyak bisa mencapai 200 persen,” kata Prinsipal LI Realty, Ali Hanafia kepada Kompas.com, di Jakarta, Rabu (3/2/2016).

Dua tahun lalu, harga lahan di kawasan Cibubur sekitar Rp 5 juta hingga Rp 10 juta per meter persegi. Kini sudah menembus angka Rp 10 juta hingga Rp 15 juta per meter persegi untuk kawasan komersial.

Sementara di Bekasi Timur, dua tahun lalu masih berada pada level Rp 6 juta hingga Rp 12 juta per meter persegi, kini menyentuh Rp 9 juta sampai Rp 20 juta untuk kawasan komersial.

Adapun jenis bisnis properti yang cocok dikembangkan di sekitar stasiun LRT menurut Ali adalah apartemen, rumah susun, dan kios-kios usaha setara mini market atau supermarket dengan skala cukup besar.

PT Agung Podomoro Land Tbk (APLN) menjadi salah satu pengembang yang tertarik berinvestasi di wilayah pembangunan LRT. Mereka membangun sebuah hunian untuk segmen menengah ke bawah.

“Saat ini kami sedang mempersiapkan pembangunan sekelas rusunami di sekitar wilayah proyek LRT,” kata Vice President Marketing APLN, Indra W Antono, beberapa waktu lalu.

Indra menambahkan, kehadiran LRT akan mampu mengurangi beban kendaraan pribadi masyarakat Jakarta.

Selain itu, LRT juga diyakini mampu memberikan integrasi transportasi antara-kawasan urban dan sub-urban.

Beberapa pengembang beikut juga tengah membangun proyek di wilayah pinggiran yang terintegrasi dengan LRT adalah

1. Grand Dhika City Bekasi yang dibesut PT Adhi Persada Properti
2. Podomoro Golf View di Cimanggis, Depok, oleh PT Agung Podomoro Land
3. Olympic Residences di Sentul hasil kolaborasi PT Hutama Karya Realtindo dan Olympic Development


properti.kompas.com