Asing Garap Apartemen Serpong Rp 12,46 Triliun

Big Banner

Jakarta – Para pengembang properti asal Jepang, Hong Kong, dan Singapura gencar merangsek kawasan Serpong, Tangerang. Mereka agresif memasuki pasar terhitung pertengahan 2015 hingga kini. Setidaknya ada empat proyek besar dengan nilai sekitar Rp 12,46 triliun yang sedang digarap mereka.

Mereka melihat pasar Indonesia, khususnya kawasan Serpong yang berbatasan dengan Jakarta cukup prospektif. Selain didukung infrastruktur transportasi yang meningkatkan konektifitas Tangerang dengan Jakarta, pasar dinilai positif seiring peningkatan kelas menengah di Indonesia.

Di sisi lain, permintaan apartemen di kawasan Tangerang, Banten dinilai masih cukup tinggi pada 2016. Hal itu dapat dilihat dari meruyaknya proyek pembangunan apartemen yang mencapai 30-an proyek di kawasan tersebut.

Menurut Bill Cheng, presiden direktur PT Brewin Mesa Development, pengembang properti yang berbasis di Singapura, kota-kota satelit Jakarta posisinya amat penting dalam menopang pertumbuhan kehidupan perkotaan di Indonesia. “DKI Jakarta sudah semakin padat, dan lahan yang tersedia untuk pengembangan makin sedikit, hanya ada satu cara untuk memperluas kota ini, yaitu keluar menuju ke kota-kota satelit,” ujar dia, dalam publikasinya di Jakarta, Kamis (4/2).

Brewin Mesa akan mengembangkan dua menara apartemen berkapasitas total 496 unit di atas lahan seluas 8.500 meter persegi (m2). Proyek senilai Rp 1,3 triliun itu dikembangkan di kawasan Alam Sutera, Serpong, Tangerang.

Selain Brewin, pengembang asing lainnya yang menggarap Serpong adalah Datzo Investama Group (Hong Kong) dengan nilai proyek sekitar US$ 140 juta atau setara dengan sekitar Rp 1,96 triliun dengan kurs Rp 14 ribu per dolar AS.

Sedangkan dua pengembang lainnya yang sudah lebih dulu menggarap di Serpong adalah Bumi Parama Wisesa (Hong Kong Land) dengan proyek senilai Rp 5 triliun. Lalu, Tokyu Land Indonesia dengan investasi US$ 300 juta atau sekitar Rp 4,2 triliun.
“Kota-kota satelit seperti Lippo Karawaci, BSD dan Alam Sutera sangat menarik,” tukas Bill Cheng.

Hal itu, ujar dia, tidak hanya karena biaya yang lebih rendah dibandingkan dengan proyek di Jakarta, tetapi juga integrasi yang ditawarkannya – sekolah, mal dan fasilitas lainnya yang terletak dekat dengan komplek perumahaan yang aman. Pada saat yang sama, kota-kota ini memiliki aksesibilitas yang baik ke Jakarta melalui jalan tol yang ada untuk memudahkan perjalanan. “Kota-kota satelit akan terus menjadi pilihan yang menarik untuk pasar segmen menengah keatas,” tuturnya.

Investor Daily

Edo Rusyanto/EDO

Investor Daily

beritasatu.com