Ini Konsep Rusun yang Dibutuhkan Masyarakat

Big Banner

Rusun (Rumah Susun) sedang menjadi target pembangunan pemerintah DKI Jakarta. Selain untuk menanggulangi backlog (angka kekurangan rumah), bangunan vertikal untuk rakyat ini juga dinilai mampu menjadi solusi penanggulangan kawasan kumuh. 

Hanya saja, tak sedikit dari mereka yang mangkir atau lebih memilih untuk menempati hunian lamanya meski kumuh dan kotor ketimbang harus pindah ke rusun. Mengapa demikian? 

Menurut Nadya Azalia, mahasiswi Arsitektur semester 8 Universitas Indonesia, rusun yang dibangun selama ini cuma sekadar dibuat, pengembang tidak memerhatikan kebutuhan dan kebiasaan masyarakat yang tinggal di rusun tersebut. 

BACA JUGA : 5 ALASAN BANK MENOLAK KPR, KTA DAN KARTU KREDIT

“Selama ini mereka (pemerintah) cuma bangun rusun, tapi tidak tahu apa yang masyarakat butuhkan. Padahal, masing-masing lokasi punya kebutuhan yang berbeda-beda,” ucap Nadya kepada tim Rumahku.com. 

Keprihatinannya tersebut lantas membuat perempuan berhijab ini menyajikan konsep yang dinilai tepat untuk rusun. Diberi nama ‘Flux Vertical Kampong’, Nadya kemudian mengambil sampel dari kawasan kumuh di pinggiran sungai Bendungan Hilir (Benhil). 

“Di sana ada sekitar 200 kepala keluarga, yang tinggal di pinggir kali. Masalahnya adalah kehidupan mereka ditopang oleh kali tersebut, tapi tidak ada yang merawat dan menggunakannya dengan baik, sehingga jadi kotor,” katanya. 

Melihat hal itu, perempuan ini lalu memiliki konsep untuk membuat rusun yang memiliki filter serta pompa, sehingga air kali bisa lebih dimanfaatkan dengan baik. Meski air hasil filter sungai tersebut tidak disarankan untuk dikonsumsi ataupun mandi, namun bisa digunakan untuk mencuci kendaraan, mengepel dan menyiram tanaman serta toilet. 

Selain itu kebiasaan masyarakat untuk jajan dan bersosialisasi juga disuguhkan dengan tangga memutar yang memungkinkan tukang makanan untuk membawa gerobak jajanan mereka mengitari rusun. Selain memudahkan penghuni untuk jajan, tangga memutar tersebut juga bisa dimanfaatkan sebagai tempat untuk ngobrol-ngobrol santai sesama penghuni. 

“Yang terpenting itu harus sesuai dengan konteks, tak sekadar indah, karena habit masyarakat atas dan bawah itu sangat berbeda, yang satu butuh privasi, sedangkan yang lainnya ingin bersosialisasi. Jadi antara rusun dan apartemen tak bisa disamakan,” tutupnya.

rumahku.com

Large Rectangle
Large Rectangle

Share

Follow Me