Pengamat: Bandung Kota Kreatif, Bukan Soal Museum dan Transportasi!

Big Banner

JAKARTA, KOMPAS.com – Salah satu kritik Andre Vltchek terhadap penetapan Bandung sebagai kota kreatif dunia ada pada minimnya museum di kota itu. Namun, hal itu justru dibantah oleh pengamat perkotaan Universitas Trisakti Jakarta, Yayat Supriatna.

“Museum itu nyatanya sepi, enggak ada interaksi. Memang, kita bisa dapat banyak ilmu sejarah kota di sana, tapi karya itu sendiri cuma saksi bisu. Paling penting itu justru masyarakatnya yang menjalani kehidupan nyata di Bandung, ketika kreativitas bisa mendukung ekonomi yang ada,” jelasnya kepada Kompas.com, Selasa (8/2/2016).

Andre mengkritisi Bandung karena saat ini kota itu belum punya cukup bioskop dan museum seni yang layak. Saat ini di Bandung tercatat hanya memiliki enam museum, yakni Museum Sri Baduga, Museum Geologi, Museum Konferensi Asia Afrika, Museum Mandala Wangsit, Museum POS Indonesia, dan Museum Barli.

Yayat sendiri punya pandangan lain, Menurut dia, jika bioskop dan museum seni yang Andre maksud itu nantinya hanya akan mengkultuskan karya individu tertentu. Sebaliknya, Bandung bukanlah kota dengan karakteristik seperti itu.

“Yang penting bukan hasil kreativitas individu yang besar, tapi lebih kepada kreativitas kelompok,” tambahnya.

Selain kritik terhadap museum, Andre juga mengkritisi minimnya transportasi umum dan infrastruktur transportasi Bandung. Dia juga mempertanyakan cara Bandung tanpa kereta bawah tanah, tanpa jaringan kereta super sibuk, tanpa trem, dan tanpa underpass seperti Bandung bisa menjadi kota kreatif menurut UNESCO.

Kritik Andre tersebut tak terlepas dari latar belakangnya yang hidup di kota-kota besar Eropa dan Amerika Serikat (AS). Karena itu, dia membandingkan kota-kota tersebut dengan Bandung.

Menanggapi hal itu, Yayat menyebut bahwa yang dilakukan Andre adalah perbandingan yang sia-sia. Pasalnya, Bandung sangat berbeda dengan kota-kota di Eropa dan AS pada umumnya.

“Bandung memang punya kesemrawutan lalu lintas tersendiri, dan itu bukan seperti kota-kota di Eropa, karena sejarahnya kita ini dibentuk oleh negara-negara yang ke arah kapitalis. Jadi, jangan bandingkan dengan negara Eropa, jangan dibandingkan apple to apple,” katanya.

Bandung sebagai kota kreatif dunia dilihat Yayat sebagai bentuk penghargaan bagi masyarakat Bandung yang selama ini banyak menciptakan usaha ekonomi kreatif, bukan dari banyaknya museum atau transportasi umum serta infrastrukturnya.

“Kearifan lokal masyarakat Bandung memunculkan ekonomi kreatif. Jadi, bukan hanya karena pendidikan saja, karena pendidikan memunculkan ekonomi formal. Sebaliknya, kearifan lokal mampu mendatangkan ekonomi kreatif,” ucapnya.

properti.kompas.com

Large Rectangle
Large Rectangle

Share

Follow Me