Pasar Sewa Hunian Ekspatriat Terancam Jatuhnya Harga Minyak

Big Banner

Housing-Estate.com, Jakarta – Gonjang-ganjing harga minyak dunia mengancam perkembangan industri properti. Di Jakarta akibat banyaknya perusahaan di bidang minyak dan gas merasionalisasi karyawan dan memulangkan pegawai dan anggota keluarganya ke negaranya membuat pasar sewa hunian ekspatriat ikut terpengaruh. Tingkat penurunannya sejauh ini belum terlalu parah sekitar 5 – 10 persen.

Ilustrasi : Rumah untuk Ekspatriat di Jakarta Selatan

Ilustrasi : Rumah untuk Ekspatriat di Jakarta Selatan

Menurut Ferry Salanto, Associate Director dan Research Colliers International, sebuah perusahaan konsultan dan manajemen properti, paling terasa di sektor apartemen. Sebab,  cukup banyak apartemen strata title yang menyasar segmen ini masuk pasar. Akibatnya harganya juga tertekan.  “Selain itu landed house di Kemang, Pondok Indah, dan Cipete yang pasar sewanya para ekspatriat juga mengalami penurunan,” ujar Ferry kepada housing-estate.com di Jakarta, Selasa (9/2).

Harga sewa landed house untuk kalangan ekspatriat rata-rata berkisar 3.000 – 5.000 dollar AS per bulan. Menurut Ferry, akibat penurunan jumlah penyewa harganya terkoreksi sekitar 500 dollar AS.  Saat ini para pemilik hunian (land lord) lebih akomodatif, mereka lebih negotiable dengan menuruti permintaan-permintaan spesifik dari para ekspatriat.

Ferry menyatakan, turunnya pasar ekspatriat membuat harga properti yang menyasar segmen ini ikut terkoreksi. Karena itu para pemilik kapital yang mau berinvestasi sekarang waktunya untuk berbelanja. Konsekwensinya investor harus punya nafas panjang karena imbal hasilnya butuh waktu lebih lama.  “Jadi, saat ini tidak bisa untuk mendapatkan hasil sort term, tapi untuk jangka panjang. Harga sewa mungkin akan membaik sekitar 2-3 tahun yang akan datang,” imbuhnya.

housing-estate.com