Percuma Punya “Smart Home” kalau Listriknya Mengerikan!

Big Banner

KOMPAS.com – Betapa enaknya punya rumah pintar atau smart home. Anda tak perlu lagi serenteng kunci untuk buka tutup pintu rumah. Mengatur suhu, menyalakan peralatan elektronik, hingga memantau keamanan pun tak perlu berkeliling rumah. Tapi, tampaknya akan tidak lucu kalau peranti yang sudah pintar itu malah tidak berkutik hanya gara-gara tak ada listrik.

Pasar rumah cerdas diperkirakan terus melonjak dan menyebar. Merujuk data Allied Market Research yang dirilis pada Desember 2015 lalu, pasar peralatan pendukung rumah cerdas akan menghasilkan tak kurang dari 38,35 miliar dollar AS pada 2020. Dengan kurs Rp 13.500 per dollar AS saja, nilainya mencapai sekitar Rp 500 triliun.

Saat ini, Amerika Serikat dan Eropa masih mendominasi pasar rumah pintar dan peranti penunjangnya. Namun, lembaga yang sama memperkirakan, pada 2018 pasar utama bergeser ke kawasan negara-negara berkembang.

Di Indonesia, rumah pintar sudah bisa ditemukan antara lain di Serpong dan Cibubur. Pada dasarnya, smart home adalah rumah yang menerapkan sistem otomatisasi untuk beragam keperluan, mulai buka tutup pintu, pengamanan, hingga penggunaan beragam peralatan sehari-hari.

Ada empat sistem yang jamak dipakai untuk menunjang operasionalisasi rumah pintar. Keempat sistem itu adalah berbasis jaringan kabel khusus aplikasi (structured wiring), menumpang jaringan listrik rumah, memanfaatkan teknologi wireless (wi-fi), atau memakai jaringan kabel telepon.

Prinsip kerja semua sistem itu sama, yaitu menghubungkan beragam peranti dalam satu jaringan komunikasi dan kendali. Penghuni tinggal berbekal remote control atau bahkan gadget untuk mengatur dan memakai beragam peralatan tersebut. Khusus structured wiring, sistem ini hanya bisa dipakai untuk rumah baru, dipasang bersamaan dengan pembangunan rumah.

Thinkstock Ilustrasi listrik aman

Listrik aman

Apapun sistem yang dipakai untuk smart home menjadikan aliran listrik mutlak tak boleh putus. Itu sudah satu keharusan agar semua peralatan yang terhubung dalam jaringan teknologi informasi itu tetap aktif.

Banyak peranti elektronik sudah memakai baterai untuk tetap memastikannya menyala ketika aliran utama listrik terputus. Tetapi, masih ada juga yang belum punya sistem seperti itu, seperti pada televisi dan pengatur suhu ruangan.

Lebih penting lagi, peranti-peranti hub, router, dan modem yang menjadi penghubung sesama peranti teknologi informasi di rumah maupun dengan jaringan internet, rata-rata juga tak dibekali baterai. Tanpa pasokan daya listrik, peralatan-peralatan ini praktis tak berfungsi atau terkunci di posisi terakhir.

Bayangkan, apa jadinya saat jaringan utama listrik terputus tiba-tiba dan jaringan internet hanya mengandalkan ponsel dan operatornya, sementara baterai sudah menipis? Pun, tak ada pemancar Wi-fi untuk aneka peranti lain. Jika sudah begitu, rumah pintar pun serasa tak pintar lagi, bukan?

Karenanya, setiap rumah pintar harus punya uninterruptible power supply (UPS), sebagai pemasok sementara ketika aliran listrik utama terputus. Kapasitas cadangan listrik yang disiapkan pun bukan hitungan menit, melainkan jam. 

Untuk memenuhi kepastian aliran listrik di rumah pintar, ada pilihan produk UPS berkualitasdari APC by Schneider Electric. Setelah kepastian ada cadangan pemasok listrik, keamanan dan efisiensi merupakan faktor berikutnya yang harus pula dipastikan.

Perlu diketahui, semua peralatan dalam smart home cenderung sensitif, termasuk terhadap arus listrik. UPS untuk rumah pintar pun sebaiknya dipastikan bisa mengantisipasi berbagai masalah kelistrikan, seperti lonjakan voltase.

Lonjakan kekuatan arus bisa terjadi ketika ada peralihan pasokan listrik dari jaringan utama yang terputus ke UPS lalu berpindah lagi ke generator listrik gedung, hingga nantinya kembali ke jaringan utama. Peranti yang dipilih sebaiknya juga kompatibel dengan baterai tambahan dan generator cadangan listrik di lokasi rumah pintar.

Selain itu, smart home pun butuh UPS yang punya sistem manajemen daya mumpuni. Percuma punya UPS, misalnya, kalau malah me-restart saat aliran listrik utama mendadak terputus. Lebih baik lagi bila manajemen daya itu juga ramah lingkungan, termasuk umur baterai yang panjang dengan kinerja tetap optimal.

Siap punya rumah cerdas?

properti.kompas.com

Large Rectangle
Large Rectangle

Share

Follow Me