Bupati Batang Ancam Petani yang Jual Tanahnya

Big Banner

BATANG, KOMPAS.com – Selama menggarap tanah terlantar, warga desa Tumbrek, Bandar, Batang, was-was jika sewaktu-waktu mereka terusir dari lahannya. Setelah mendapatkan sertifikat hak milik, Bupati Batang Yoyok Riyo Sudibyo berharap agar warga menjaga lahan dan kepemilikiannya.

Namun, Yoyok bukan lagi berharap. Bahkan, ia mengancam jika ada warga yang berani menjual tanah tersebut.

“Silakan dibuat lahan pertanian, tapi jangan disewakan apalagi dijual. Saya akan bertindak,” ujar Yoyok di hadapan warga desa, Kamis, (11/2/2016).

Dia mengatakan, selama 19 tahun penantiannya, sekarang warga bisa mendapatkan sertifikat dan secara sah mengelola dan mengolah tanahnya. Yoyok mengatakan, dalam mengolah tanah, menurut falsafah Jawa adalah kebanggaan. Sejarah pun akan mencatat, bahwa para warga memiliki tanah dan secara hukum punya hak.

Untuk itu, Yoyok meminta janji para penerima sertifikat untuk mewariskan tanahnya secara turun-temurun hibgga kepada anak dan cucunya.

“Buat apa hidup kalau tidak punya tanah. Warga harus pegang 425 bidang ini dan tidak menjualnya,” jelas Yoyok.

Dia juga mengatakan bahwa pemerintah daerah akan meningkatkan kesejahteraan warga dengan pembangunan infrastruktur yang bisa mendukung penggarapan tanah itu sendiri. Hal itu, lanjut dia, akan dilakukan dalam perubahan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) 2017 untuk menambahkan infrastruktur maupun fasilitas pertanian agar hasil tani terus bertambah.

“Bantuan seperti bibit, alat pertanian, itu akan kita (pemerintah) sediakan. Harus ada perubahan kehidupan yang layak,” katanya. 

properti.kompas.com

Large Rectangle
Large Rectangle

Share

Follow Me