Ini “Biang Keladi” Penghambat Bisnis Properti…

Big Banner

JAKARTA, KOMPAS.com – Dalam Survei Harga Properti Residensial yang dilansir pada Kamis (11/2/2016), Bank Indonesia (BI) melaporkan faktor-faktor penghambat pertumbuhan bisnis properti tahun ini.

Menurut BI, ada empat faktor utama yang dapat menjegal pertumbuhan bisnis properti. Pertama adalah tingginya suku bunga kredit pemilikan rumah (KPR). 

Sebanyak 20,92 persen responden mengemukakan pendapat, bahwa KPR-lah yang menjadi “biang keladi” melambatnya bisnis ini.

Berdasarkan lokasi proyek, suku bunga tertinggi KPR berlaku di Maluku Utara yang menyentuh level 12,95 persen. Sedangkan suku bunga KPR terendah berada di Provinsi Aceh yakni 10,29 persen.

Faktor penghambat lainnya adalah keharusan konsumen untuk membayar uang muka atau down payment (DP). Faktor ini merupakan jawaban yang dilontarkan sebanyak 20,04 persen responden.

Berikutnya adalah kenaikan harga bahan bangunan sejumlah 17,48 persen. Terakhir masalah sengkarut perizinan sebesar 16,13 persen.


Kenaikan harga

Laporan BI juga menyinggung kenaikan harga properti residensial di Kota Batam, Kepulauan Riau, sebagai paling tinggi se-Indonesia secara tahunan atau year on year (YoY) sepanjang kuartal IV-2014 hingga kuartal IV-2015. 

“Pertumbuhan harga rumah di Batam sebesar 17,77 persen,” tulis BI.

Menyusul di tempat kedua tertinggi adalah Makassar. Ibu Kota Sulawesi Selatan ini menunjukkan kurva harga rumah meningkat sebesar 13,12 persen.

Sementara kenaikan harga rumah terendah terjadi di Denpasar, Bali dengan angka 1,38 persen.

BI menjelaskan, secara umum harga properti residensial mengalami kenaikan yang melambat. Pertumbuhan harga properti residensial secara tahunan tercatat hanya sebesar 4,62 persen.

Angka tersebut melambat dibandingkan 5,46 persen pada triwulan III-2015 dan 6,29 persen pada triwulan IV-2014.

Dilihat berdasarkan tipe rumah, kenaikan harga rumah terendah terjadi pada rumah tipe besar yakni 3,10 persen. Sementara rumah tipe kecil mengalami kenaikan harga paling tinggi 6,80 persen.

Berdasarkan wilayah, sementara kenaikan harga rumah tertinggi terjadi di Batam 17,77 persen dan Makassar 13,12 persen.

properti.kompas.com