Pengembang Diprediksi Tunda Proyek Properti pada 2014

Big Banner

(Berita Daerah – Nasional) Pada tahun 2014 ini, diperkirakan akan banyak pengembang menunda pengerjaan proyeknya, antara lain karena melemahnya kurs rupiah.

Untuk jangka pendek, akan banyak pengembang yang menunda proyeknya. Penundaan pembangunan terutama terjadi pada proyek properti yang menggunakan banyak komponen impor.

Hal itu terkait dengan pelemahan kurs rupiah sehingga konsekuensi harga akan meningkat meski laju peningkatannya pada tahun 2014 ini diperkirakan tidak akan setinggi tahun 2012 dan 2013. Pelaku usaha properti seperti penyewa atau pembeli juga akan berhati-hati dengan biaya rental (sewa) yang menggunakan dolar Amerika Serikat karena tingkat volatilitasnya yang tinggi.

Untuk saat ini, pihak pembeli atau penyewa lebih memilih penyewaan yang bentuk pembayarannya menggunakan mata uang rupiah.

Sementara itu, para pengembang bakal bersaing ketat dalam memperebutkan segmen pelanggan untuk sektor properti 2014 yang diprediksi semakin jenuh terutama setelah kenaikan BI rate. Para pengembang akan berlomba untuk memenangkan persaingan di pasar sempit di tengah perlambatan siklus properti dan ekonomi yang sedang berlanjut.

Meski terjadi perlambatan di sektor properti, tetap akan ada permintaan pasar sehingga harga properti diprediksi juga tidak akan jatuh tetapi hanya mengalami fenomena penundaan permintaan dari pasar.

Memasuki 2014, secara keseluruhan pasar properti akan melambat karena pasar segmen menengah atas dihadapkan dengan harga yang sudah terlalu tinggi sehingga banyak pengembang yang merasa terlalu tinggi untuk menjual produknya.

Sedangkan di sisi permintaan telah mengalami kejenuhan. Hal ini membuat aksi spekulasi semakin menurun. Para pengembang pun mulai melakukan resizing dengan memasuki pasar perumahan di segmen lebih rendah. Harga rumah Rp500 juta sampai 1 miliar akan menjadi primadona di 2014.

Di segmen menengah, permintaan menjadi sedikit tertunda dengan naiknya suku bunga KPR, menyusul naiknya BI Rate di tingkat 7,5 persen yang menyebabkan bank-bank mematok suku bunga KPR diatas 10,5 persen.

Dengan naiknya suku bunga tersebut, diperkirakan permintaan terhadap sektor properti juga diperkirakan akan anjlok sebesar 20-25 persen pada tahun 2014.

Pekerja menyelesaikan proyek pembangunan gedung perkantoran di kawasan SCBD, Jakarta, Selasa (17/12).

Selain itu, pengembang properti juga terus memantau kondisi ekonomi dan politik di Indonesia seperti penyelenggaraan Pemilu 2014 untuk menentukan langkah selanjutnya. Dari kacamata pengembang, kecemasannya adalah kurs dan Pemilu 2014 karena kebanyakan dari pengembang masih melihat-lihat kondisinya seperti apa. Hal ini cukup membuat mereka berhati-hati dalam berinvestasi.

Namun, optimisme perlu terus dijaga karena berbagai peristiwa yang akan mendominasi pada tahun 2014 mendatang, seperti Pemilu, diyakini sifatnya hanya berjangka pendek.

Pada tahun 2014, saat yang tepat untuk berinvestasi adalah saat ini hingga penyelenggaraan Pemilu Presiden mendatang. Sekarang waktunya yang tepat untuk berinvestasi karena dari sekarang hingga Pemilu Presiden, kecenderungan harga lebih kompetitif.

Perlu diingat pula bahwa investasi properti merupakan jenis investasi jangka panjang sehingga sebenarnya siapa saja bisa memulainya kapan saja.

Sektor properti perlu untuk mengambil kesempatan yang bisa diperoleh terkait penyelenggaraan Pemilu tahun 2014 agar sektor tersebut tidak berjalan stagnan seperti diperkirakan sejumlah pihak.

Sebagian pihak melihat kegiatan Pemilu 2014 akan berdampak pada pasar properti yang akan membuat pasar wait and see. Sikap menunggu tersebut dilakukan kalangan pebisnis termasuk di sektor properti guna mengantisipasi sambil melihat perkembangan arah politik nasional yang lebih jelas.

Namun di sisi lain, kegiatan politik menjelang Pemilu 2014 dipandang dapat dijadikan momen yang sangat baik untuk para pengembang. Para pengembang bisa berupaya dalam menggenjot penjualan perumahan dan propertinya di segmen menengah bawah, paling tidak dalam triwulan pertama tahun 2014.

Hal itu karena adanya pembelanjaan dana dari kegiatan partai dari mulai pembuatan kaos, bendera, dan atribut partai lainnya, serta pemasangan iklan dan sosialisasi yang diperkirakan dapat mencapai puluhan miliar.

Belum lagi kampanye yang dilakukan para caleg yang juga akan berdampak terhadap ekonomi daerah meskipun dalam jangka waktu yang pendek.

(et/EA/BD)

Pic: ant

beritadaerah.co.id

Large Rectangle
Large Rectangle

Share

Follow Me