Hati-Hati, Ada Properti Bodong Dipasarkan di Pameran

Big Banner

Housing-Estate.com, Jakarta – Properti merupakan salah satu sektor yang menjanjikan keuntungan besar. Pada saat booming di lokasi-lokasi strategis yang tengah berkembang kenaikan harganya bisa mencapai 25-50 persen. Karena itu banyak pemilik uang tertarik membeli untuk investasi. Rupanya tren ini dimanfaatkan orang-orang tertentu untuk mencari uang dengan jalan tidak benar. Modusnya, mereka memasarkan produk yang dapat dikategorikan bodong. Sebab, tanah  yang diklaim sebagai lokasi proyek ternyata milik orang lain. Untuk meyakinkan calon pembeli oknum-oknum itu membuat brosur lengkap dengan harganya. Tanah yang diklaim akan dibangun proyek apartemen itu lokasinya di kawasan Jakarta Timur.

Ilustrasi

Ilustrasi

Untuk mendapatkan mangsa mereka mengikuti pameran properti  di Jakarta. Pemilik tanah yang sebenarnya menduga orang-orang tersebut hanya ingin menangguk uang booking fee dari pameran setelah itu kabur. Nilai booking fee-nya Rp1,5 juta per unit. Entah benar atau tidak di brosur tercantum nama pengembang. “Kita sudah laporkan dan sekarang sudah ditangani kepolisian,” ujar pemilik tanah kepada housing-estate.com di Jakarta, Jumat (19/2).

Besaran booking fee itu cukup kecil karena biasanya angkanya rata-rata Rp5 juta per unit dan bisa ditarik apabila tidak jadi (refundable). Mekanisme booking fee yang juga dikenal sebagai pendaftaran nomor urut pemesanan (NUP) itu sekarang sudah umum dipraktekkan pengembang. Pemilihan unit atau undian apabila jumlah pesanan lebih banyak dari produk yang ditawarkan, akan dilakukan saat launching.

Tahap ini dapat menjadi lubang yang bisa merugikan konsumen. Ini dapat terjadi tidak hanya pada proyek bodong, proyek yang dikembangkan pengembang tidak bonafid dapat mengalami nasib serupa. Booking fee atau uang pemesanan sudah diterima tapi proyeknya tidak kunjung dibangun. Ini juga dapat terjadi pada konsumen yang membeli properti secara tunai bertahap (installment). Pembayarannya sudah 50 persen, bahkan lebih tapi proyeknya belum dimulai.

Akhirnya proyek tersebut dinyatakan pailit atau dijual ke perusahaan lain. Konsumen yang sudah mencicil akhirnya gigit jari, kalaupun uangnya kembali prosesnya pasti tidak mudah.

Menurut Timothy Chang, Managing Director Kingland Group, pengembang apartemen Kingland Avenue Serpong, Banten, untuk menghindari kemungkinan buruk itu  sebelum membayar booking fee konsumen harus dating langsung ke lokasi proyek.

“Jangan mau membayar booking di stand pameran, pastikan kebenaran proyeknya dengan datang ke lokasi. Lihat juga adakah show unit dan kantor pemasaran di lokasi proyek, kalau ada  pengembangnya serius,” imbuhnya.

housing-estate.com